Tinggalkan komentar

askep tbc

LAMPIRAN MATERI

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

TUBERCULOSIS PARU

A.                     Pengertian

Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru (IPD, FK, UI).

Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi ( Mansjoer , 1999).

  1. Etiologi

Etiologi Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang berbentuk batang dan Tahan asam ( Price , 1997 )

Penyebab Tuberculosis adalah M. Tuberculosis bentuk batang panjang 1 – 4 /mm

Dengan tebal 0,3 – 0,5 mm. selain itu juga kuman lain yang memberi infeksi yang sama yaitu M. Bovis, M. Kansasii, M. Intracellutare.

  1. Patofis

TB. Primer

Kuman dibatukkan / bersin (droplet nudei inidinborne)

Terisap organ sehat

Menempel di jalan nafas / paru-paru

Menetap / berkembang biak

Sitoplasma makroflag

Membentuk sarang TB Pneumonia kecil

(sarang primer / efek primer)

Radang saluran pernafasan

(limfangitis regional)

Komplek primer

Sembuh                     Sembuh dengan bekas                        Komplikasi

TB Sekunder

Kuman dormat (TB Primer)

Infeksi endogen

TB DWS (TB. Post Primer)

Sarang pneumenia kecil

Tuberkel

Reorpsi                              Meluas                               Meluas

                        Sembuh

                                                                 Perkapuran                         Jaringan Keju

                                                                 Sembuh                                Kavitas

Meluas             Memadat/bekas      Bersih  Sembuh

Sarang pneumonia baru          Tuberkuloma

D.                     Klasifikasi

¨      Klasifikasi Kesehatan Masyarakat (American Thoracic Society, 1974)

–     Kategori       0       =   –   Tidak pernah terpapar / terinfeksi

–       Riwayat kontak negatif

–       Tes tuberkulin

–     Kategori        I       =   –    Terpapar TB tapi tidak terbukti ada infeksi

–       Riwayat / kontak negatif

–       Tes tuberkulin negatif

–    Kategori      II       =   –   Terinfeksi TB tapi tidak sakit

–       Tes tuberkulin positif

–       Radiologis dan sputum negatif

–    Kategori      III       =   –    Terinfeksi dan sputum sakit

¨      Di Indonesia Klasifikasi yang dipakai berdasarkan DEPKES 2000 adalah Kategori 1 :

–            Paduan obat 2HRZE/4H3R3 atau 2HRZE/4HR atau  2HRZE/6HE

Obat tersebut diberikan pada penderita baru Y+TB Paru BTA Positif, penderita TB Paru BTA Negatif Roentgen Positif yang “sakit berat” dan Penderita TB ekstra Paru Berat.

Kategori II :

–            paduan obat 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Obat ini diberikan untuk : penderita kambuh (relaps), pendrita gagal (failure) dan penderita dengan pengobatan setelah lalai ( after default)

Kategori III :

–            paduan obat 2HRZ/4H3R3

Obat ini diberikan untuk penderita BTA negatif fan roentgen positif    sakit ringan, penderita ekstra paru ringan yaitu TB Kelenjar Limfe (limfadenitis), pleuritis eksudativa uiteral, TB Kulit, TB tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.

Adapun tambahan dari pengobatan pasien TB obat sisipan yaitu diberikan bila pada akhir tahab intensif dari suatu pengobatan dengan kategori 1 atua 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan ( HRZE ) setiap hari selama satu bulan.

  1. Gejala Klinis

Gejala umum Tb paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum , malaise , gejala flu , demam ringan , nyeri dada , batuk darah . ( Mansjoer , 1999)

Gejala lain yaitu kelelahan, anorexia, penurunan Berat badan ( Luckman dkk, 93 )

–        Demam           :      subfebril menyerupai influensa

–        Batuk              :      – batuk kering (non produktif)  ® batuk produktif (sputum)

– hemaptoe

–       Sesak Nafas     :      pada penyakit TB yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah ½  bagian paru-paru

–        Nyeri dada

–        Malaise           :      anoreksia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, keringat malam

  1. Pemeriksaan Penunjang

1.  Darah                     :      –   Leokosit sedikit meninggi

–   LED meningkat

2.  Sputum                  :      BTA

Pada BTA (+) ditermukan sekurang-kurangnya 3 batang kuman pada satu sediaan dengna kata lain 5.000 kuman dalam 1 ml sputum.

3.  Test Tuberkulin     :      Mantoux Tes (PPD)

4.  Roentgen               :      Foto PA

  1. Medikamentosa

Jenis  obat yang dipakai

–  Obat Primer                                   –  Obat Sekunder

1.  Isoniazid (H)                               1.  Ekonamid

2.  Rifampisin (R)                             2.  Protionamid

3.  Pirazinamid (Z)                           3.  Sikloserin

4.  Streptomisin                                4.  Kanamisin

5.  Etambutol (E)                              5.  PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)

  1. Tiasetazon
  2. Viomisin
  3. Kapreomisin

Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :

  • Tahap INTENSIF

Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahab intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi  negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.

  • Tahap  lanjutan

Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya kelembutan. Tahab lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

Paduan obat kategori 1 :

Tahap Lama (H) / day  R day Z day F day Jumlah

Hari X

Nelan ObatIntensif2 bulan113360Lanjutan4 bulan21–54

Paduan Obat kategori 2 :

Tahap Lama (H)

@300

mgR

@450

mgZ

@500

mgE

@ 250

mgE

@500

mgStrep.

InjeksiJumlah

Hari X

Nelan ObatIntensif2 bulan

1 bulan1

11

13

33

3-

-0,5 %60

30Lanjutan5 bulan2 132-66

Paduan Obat kategori 3 :

Tahap Lama H @ 300 mg R@450mg P@500mg Hari X Nelan Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 60
Lanjutan

3 x week4 bulan2

1154

OAT sisipan (HRZE)

Tahap Lama H

@300mg R

@450mgZ

@500mg

E day

@250mgNelan X

HariIntensif

(dosis harian)1 bulan113330

H.                Kegagalan Pengobatan

Sebab-sebab kegagalan pengobataan :

a.       Obat                            :    –      Paduan obat tidak adekuat

–      Dosis obat tidak cukup

–            Minum obat tidak teratur / tdk. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan.

–            Jangka waktupengobatan kurang dari semestinya

–            Terjadi resistensi obat.

b.    Drop out                       :    –      Kekurangan biaya pengobatan

–      Merasa  sudah sembuh

–      Malas berobat

c.     Penyakit                        :    –      Lesi Paru yang sakit terlalu luas / sakit berat

–      Ada penyakit lainyang menyertai contoh : Demam, Alkoholisme dll

–      Ada gangguan imunologis

  1.     Penanggulangan Khusus Pasien
    1. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur

–  menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan cara pemberian.

–  Pemeriksaan uji kepekaan / test resistensi kuman terhadap obat

  1. Terhadap penderita yang riwayat pengobatan tidak teratur

–   Teruskan pengobatan lama ± 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-tiap bulan.

–     Nilai ulang test resistensi kuman terhadap  obat

–     Jangka resistensi terhadap obat, ganti dengan paduan obat yang masih sensitif.

  1. Pada penderita kambuh (sudah menjalani pengobatan teratur dan adekuat sesuai rencana tetapi dalam kontrol ulang BTA ( +) secara mikroskopik atau secara biakan )
    1. Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama
    2. Lakukan pemeriksaan BTA mikroskopik 3 kali, biakan dan resistensi
    3. Roentgen paru sebagai evaluasi.
    4. Identifikasi adanya penyakit yang menyertai (demam, alkoholisme / steroid jangka lama)
    5. Sesuatu obat dengan tes kepekaan / resistensi
    6. Evaluasi ulang setiap bulannya : pengobatan, radiologis, bakteriologis.
  1. J.    Asuhan Keperawatan TB Paru
    1. Pengkajian

Data Yang dikaji

  1. Aktifitas/istirahat

Kelelahan

Nafas pendek karena kerja

Kesultan tidur pada malam hari, menggigil atau berkeringat

Mimpi buruk

Takhikardi, takipnea/dispnea pada kerja

Kelelahan otot, nyeri , dan sesak

  1. Integritas Ego

Adanya / factor stress yang lama

Masalah keuangan, rumah

Perasaan tidak berdaya / tak ada harapan

Menyangkal

Ansetas, ketakutan, mudah  terangsang

  1. Makanan / Cairan

Kehilangan nafsu makan

Tak dapat mencerna

Penurunan berat badan

Turgor kult buruk, kering/kulit bersisik

Kehilangan otot/hilang lemak sub kutan

  1. Kenyamanan

Nyeri dada

Berhati-hati pada daerah yang sakit

Gelisah

  1. Pernafasan

Nafas Pendek

Batuk

Peningkatan frekuensi pernafasan

Pengembangn pernafasan tak simetris

Perkusi pekak dan penuruna fremitus

Defiasi trakeal

Bunyi nafas menurun/tak ada secara bilateral atau unilateral

Karakteristik : Hijau /kurulen, Kuning atua bercak darah

  1. Keamanan

Adanya kondisi penekanan imun

Test HIV Positif

Demam atau sakit panas akut

  1. Interaksi Sosial

Perasaan Isolasi atau penolakan

Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab

Pemeriksaan Diagnostik

  1. Kultur Sputum
  2. Zeihl-Neelsen
  3. Tes Kulit
  4. Foto Thorak
  5. Histologi
  6. Biopsi jarum pada jaringan paru
  7. Elektrosit
  8. GDA
  9. Pemeriksaan fungsi Paru

II. Diagnosa Keperawatan

  1. Resiko tinggi infeksi ( penyebaran / aktivasi ulang ) B.d

–            Pertahanan primer tak adekuat , penurunan kerja silia

–            Kerusakan jaringan

–            Penurunan ketahanan

–            Malnutrisi

–            Terpapar lngkungan

–            Kurang pengetahuan untuk menghindari pemaparan patogen

Kriteria hasil :- Pasien menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko    individu

–       mengidentifkasi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi

–       Menunjukkan teknik , perubahan pola hidup untuk peningkatan lingkungan yang aman

Intervensi :

  1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
  2. Identifikasi orang lain yang beresiko
  3. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari meludah
  4. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara
  5. Awasi suhu sesuai indikasi
  6. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
  7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
  8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
  9. Dorong memilih makanan seimbang
  10. Kolaborasi pemberian antibiotik
  11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal
  1. Bersihan jalan nafas tak efektif  B.d

–  adanya secret

–  Kelemahan , upaya batuk buruk

–  Edema tracheal

Kriteria Evaluasi  : Pasien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi   jaringan adekuat

Intervensi :

  1. Kaji fungsi pernafasan , kecepatan , irama , dan kedalaman serta penggunaan otot asesoris
  2. Catat kemampuan unttuk mengeluarkan mukosa / batuk efekttif
  3. Beri posisi semi/fowler
  4. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea
  5. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml per hari
  6. Kolaboras pemberian oksigen dan obat – obatan sesuai dengan indikasi
  1. Resiko tinggi / gangguan pertukaran gas B.d

–  Penurunan permukaan efektif paru , atelektasis

–  Kerusakan membran alveolar – kapiler

–  Sekret kental , tebal

–  Edema bronchial

Kriteria Evaluasi  : Pasien menunjukkan perbaikan venilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan

Intervensi :

  1. Kaji Dipsnea,Takhipnea, menurunnya bunyi nafas ,peningkatan   upaya pernafasan , terbatasnya ekspansi dinding dada , dan kelemahan
    1. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran , catat sianosis dan atau perubahan pada warna kulit
    2.  Anjurkan bernafas bibr selama ekshalasi
      1. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan atau Bantu aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
      2. Kolaborasi oksigen
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan B.d

–       Kelemahan

–       Sering batuk / produksi sputum

–       Anorexia

–       Ketidakcukupan sumber keuangan

Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan BB, menunjukkan perubahan perilaku / pola hidup untuk meningkatkan / mempertahankan BB yang tepat

Intervensi :

  1. Catat status nutrisi pasien pada penerimaan , catat turgor kulit , BB, Integrtas     mukosa oral , kemampuan menelan , riwayat mual / muntah atau diare
  2.  Pastikan pola diet biasa pasien
  3.  Awasi masukan dan pengeluaran dan BB secara periodik

4.  Selidiki anorexia , mual , muntah dan catat kemungkinan hhubungan dengan obat

  1. Dorong dan berikan periode stirahat sering.
  2. Berikan perwatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
  3. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohodrat.
  4. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah.
  5. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
  6. Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadual pengobatan 1-2 jam sebelum dan sesudah makan.
  7. Awasi pemeriksaan laboratorium
  8. Kolaborasi antipiretik
  1. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan

Berhubungan dengan :

–           Keterbatasan kognitif

–           Tak akurat/lengkap informasi yang ada salah interpretasi informasi

Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan serta melakukan perubahan pola hidupdan berpartispasi dalam program pengobatan

Intervensi :

  1. Kaji kemampuan psen untuk belajar
  2. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat
  3. Tekankan pentingnya mempertahankan proten tinggi dan det karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat.
  4. Berikan interuksi dan informasi tertuls khusus pada pasien untuk rujukan.
  5. Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan lama.
  6. Kaji potensial efek samping pengobatan dan pemecahan masalah
  7. Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alcohol sementara minum INH
  8. Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah  memula dan kemudian tiap bulan selama minum etambutol
  9. Dorongan pasien/ atau orang terdekat untuk menyatakan takut / masalah. Jawab pertanyaan dengan benar.
  10. Dorong untuk tidak merokok
  11. Kaji bagaimana TB ditularkan dan bahaya reaktivasi

DAFTAR PUSTAKA ( REFERENSI )

Doengoes Marilynn E ,Rencana Asuhan Keperawatan ,EGC, Jakarta , 2000.

Lynda Juall Carpenito, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan , edisi 2 , EGC, Jakarta ,1999.

Mansjoer dkk , Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK UI , Jakarta 1999.

Price,Sylvia Anderson , Patofisologi : Konsep Klinis Proses – Proses penyakit , alih bahasa Peter Anugrah, edisi 4 , Jakarta , EGC, 1999.

Tucker dkk, Standart Perawatan Pasien , EGC, Jakarta , 1998.

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

Mata Kuliah                                          : Keperawatan Medikal Bedah

Kode Mata Ajaran                           : 216

SKS                                                 : 2 SKS

Waktu Pertemuan                            : 2 x 50 Menit

Pertemuan ke                                   : 1

_________________________________________________________________________

  1. TUJUAN

TIU               : Setelah mengkuti perkuliahan mahasiswa diharapkan mampu memahami   Asuhan keperawatan pada Klien dengan TB Paru .

TIK               : Setelah mengikuti perkuliahan , Mahasiswa mampu :

  1. Menyebutkan pengertian TB Paru
  2. Mengetahui etiologi
  3. Memahami Patofisiologi
  4. Menyebutkan tanda dan gejala
  5. Mengetahui pemeriksaan Dagnostik
  6. Mengetahui tindakan pengobatan Medis
  7. Memahami pengkajian keperawatan
  8. Mengetahui Diagnosa keperawatan
  9. Memahami intervensi keperawatan
  1. POKOK BAHASAN : Asuhan Keperawatan pada Klien dengan TB Paru
  1. SUB POKOK BAHASAN :
    1. Pengertian TB Paru
    2. Etologi
    3. Patofisiologi
    4. Tanda dan gejala
    5. Pemeriksaan Diagnostik
    6. Pengobatan Medis
    7. Pengkajian keperawatan
    8. Diagnosa keperawatan
    9. Intervensi keperawatan
  1. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Tahap Pengajaran Waktu Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa
Pendahuluan

Penyajian

Penutup

10 Menit

75 Menit

15 Menit

  1. Memberi salam
  2. Memperkenalkan diri
  3. Mengenal Mahasiswa
  4. Menjelaskan cakupan materi
  5. Menjelaskan manfaat mempelajari TB Paru
  6. Menjelaskan kompetensi dalam TIU dan TIK
  1. Menanyakan Pengertian TB paru
  2. Menuliskan jawaban Mahasiswa di White board
  3. Menyebutkan etiologi TB Paru
  4. Menjelaskan Patofisiologi TB Paru
  5. Menanyakan tanda dan gejala TB Paru
  6. Menuliskan jawaban Mahasiswa di white board dan menyimpulkan berdasarkan teori
  7. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik
  8. Menjelaskan Pengobatan Medis
  9. menjelaskan konsep Pengkajian keperawatan
  10. Menanyakan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien TB Paru
  11. Memberikan umpan balik pada Mahasiswa
  12. Menjelaskan intervensi keperawatan pada klien dengan TB Paru
  13. Memberikan kesempatan pada Mahasiswa untuk komentar atau bertanya

Menutup Pertemuan

  1. Menyimpulkan materi Perkuliahan
  2. Mengadakan umpan balik dengan post test
    1. Merespon hasil post tes
    2. Memberikan gambaran tentang materi perkulahan yang akan datang
    3. Menutup Pertemuan

Menjawab

Memperhatikan

Memperhatikan

Menjawab pertanyaan

Memperhatikan

Menjawab pertanyaan

Memperhatikan

Menjawab

Memperhatikan

Bertanya

Memperhatikan

Mengerjakan soal

Mengoreksi bersama

Memperhatikan

Menjawab salam

  1. Media         : OHP , Transparan , Spidol , White Board
  1. Metode       : Ceramah , Tanya Jawab , Observasi
  1. Evaluasi      : Test Formatif tertulis objektif
  1. Referensi

Doengoes Marilynn E ,Rencana Asuhan Keperawatan ,EGC, Jakarta , 2000.

Lynda Juall Carpenito, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan , edisi 2 , EGC, Jakarta ,1999.

Mansjoer dkk , Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK UI , Jakarta 1999.

Price,Sylvia Anderson , Patofisologi : Konsep Klinis Proses – Proses penyakit , alih bahasa Peter Anugrah, edisi 4 , Jakarta , EGC, 1999.

Tucker dkk, Standart Perawatan Pasien , EGC, Jakarta , 1998.

EVALUASI AKHIR PERTEMUAN

PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN YANG ANDA ANGGAP BENAR DENGAN MEMBERI TANDA SILANG !

  1. Berikut ini pengertian yang tepat dari Tuberculosis …..
  2. Penyakit akut pada saluran pernapasan
  3. Inflamasi kronis yang terjadi pada paru
  4. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi
  5. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh salmonella
  6. Penyakit degeneratif yang sering terjadi pada orang tua
    1. Etiologi Tuberculosis adalah bakteri tahan asam ……

a. Mycobacterium Tuberculosis

b. Mycobacterum Leprae

c. Bakteri gram negatif

d.Salmonella

e. Esterecia Colli

  1. Gejala TB yang sering kita temukan adalah sebagai berikut , kecuali

a. Malaise

b. Batuk

c. Demam subfebril

d.Nyeri dada

e. Nyeri kapala

  1. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa TB adalah ….

a. Darah rutin

b. Sputum BTA+

c. Urin rutin

d.Widal test

e. Lekosit menurun

  1. Obat yang tidak digunakan pada pengobatan TB adalah …..

a. Isoniazid

b. Streptomicin

c. Rifampicin

d.Pirazolon

e. Pirazinamid

  1. Yang tidak perlu dikaji pada klien TB paru adalah ……

a. Aktivitas

b. Integritas ego

c. Konsep diri

d.Pernapasan

e. Interaksi sosial

  1. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan TB paru …

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif  b.d penumpukan sekret

b. Gangguan mobilisasi b.d kelumpuhan pada anggota gerak

c. Gangguan komunikasi verbal

d.Defisit perawatan diri b.d nutrisi kurang

e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

  1. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah nutrisi pada pasien dengan TB, kecuali ….

a. Awasi masukan dan pengeluaran

b. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan KH

c. Selidiki anorexia , mual , muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat

d.Berikan posisi semi Fowler atau Fowler

e. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan komposisi diet

  1. Tindakan Keperawatan yang tidak tepat dilakukan pada klien dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif

a. Catat kemampuan untuk batuk efektif

b. Bersihkan secret dari mulut dan trachea

c. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran

d.Berikan posisi semi fowler atau fowler

e. Pertahankan masukan cairan sedukitnya 2500 ml/hari

  1. Untuk mencegah terjadinya penyakit TB , pada bayi diberikan Imunisasi
    1. DPT
    2. BCG
    3. TT
    4. Campak
    5. Polio
Tinggalkan komentar

askep glaukoma

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 

  1. Latar Belakang

 

Mata merupakan salah satu organ tubuh yang sangat panting, dengan mata kita dapat memandang dunia dan melakukan segala sesuatu dengan baik. Deteksi dini dan penanganan segera pada masalah gangguan sistem penglihatan harus dilakukan untuk mengetahui adakah kelainan yang terjadi dan untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan.

Masalah penglihatan glaukoma  merupakan salah satu yang penting untuk dilakukan deteksi dini dan penanganan segera karena dapat mengakibatkan kebutaan bila tidak ditangani dengan tepat . Pada makalah ini penyusun akan menyampaikan bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan glaukoma .

 

B.     Tujuan

 

Tujuan yang akan dicapai pada makalah seminar ini adalah mahasiswa dapat mengerti dan memahami asuhan keperawatan pada gangguan sistem panglihatan : Glaukoma  sehingga nantinya dapat menerapkannya dalam praktik di lahan.

 

  1. Ruang lingkup

 

Pada pembahasan makalah ini disampaikan asuhan keperawatan pada glaukoma mulai dari pengertian, Penyebab, klasifkasi, pemerksaan fisik dan diagnostik, pengkajian, diagnosa keperawatan,  tujuan dan intervensi keperawatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN TEORI

 

A.    DEFINISI

Glaukoma adalah suatu kelainan pada mata berupa peninggian tekanan bola mata, kerusakan pada saraf optik dan menciutnya  lapang pandang.

 

  1. B.     PENYEBAB

Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intra okuler ini disebabkan oleh :

–         Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan ciliary

–         Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau  di celah pupil

 

  1. C.    KLASIFIKASI
    1. Glaukoma primer

–          Glaukoma sudut terbuka

Merupakan sebagian besar dari glaukoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka karena humor aqueousmempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan rabekular, saluran schleem, dan saluran yg berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada, kelainan diagnose dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.

–          Glaukoma sudut tertutup(sudut sempit)

Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga ris terdorong ke depan, menempel ke jar trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa nyeri mata yang berat, penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.

 

  1. Glaukoma kongenital

–          Primer atau infantil

–          Menyertai kelainan kongenital lainnya

  1. Glaukoma sekunder

Dapat terjadi dari peradangan mata , perubahan pembuluh darah dan trauma . Dapat mirip dengan sudut terbuka atau tertutup tergantung pada penyebab.

–          Perubahan lensa

–          Kelainan uvea

–          Trauma

–          bedah

  1. Glaukoma absolut

Merupakan stadium akhir glaukoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut .Pada glaukoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi  glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik.

Pengobatan glaukoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.

Berdasarkan  lamanya :

GLAUKOMA AKUT

  1. Definisi

Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intraokuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.

  1. Etiologi

Dapat terjadi primer, yaitu timbul pada mata yang memiliki bakat bawaan berupa sudut bilik mata depan yang sempit pada kedua mata, atau secara sekunder sebagai akibat penyakit mata lain. Yang paling banyak dijumpai adalah bentuk primer, menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih.

 

 

  1. Faktor Predisposisi

Pada bentuk primer, faktor predisposisinya berupa pemakaian obat-obatan midriatik, berdiam lama di tempat gelap, dan gangguan emosional. Bentuk sekunder sering disebabkan hifema, luksasi/subluksasi lensa, katarak intumesen atau katarak hipermatur, uveitis dengan suklusio/oklusio pupil dan iris bombe, atau pasca pembedahan intraokuler.

  1. Manifestasi klinik

1).    Mata terasa sangat sakit. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan daerah belakang kepala .

2).    Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah , kadang-kadang dapat mengaburkan gejala glaukoma akut.

3).    Tajam penglihatan sangat menurun.

4).    Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat.

5).    Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar.

6).    Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh.

7).    Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif, akibat timbulnya reaksi radang uvea.

8).    Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat.

9).    Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan media penglihatan.

10).      Tekanan bola mata sangat tinggi.

11).      Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal.

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan tekanan.

Perimetri, Gonioskopi, dan Tonografi dilakukan setelah edema kornea menghilang.

  1. Penatalaksanaan

Penderita dirawat dan dipersiapkan untuk operasi. Dievaluasi tekanan intraokuler (TIO) dan keadaan mata. Bila TIO tetap tidak turun, lakukan operasi segera. Sebelumnya berikan infus manitol 20% 300-500 ml, 60 tetes/menit. Jenis operasi, iridektomi atau filtrasi, ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaab gonoskopi setelah pengobatan medikamentosa.

 

 

  1. 2.      GLAUKOMA KRONIK
    1. Definisi

Glaukoma kronik adalah penyakit mata dengan gejala peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen.

  1. Etiologi

Keturunan dalam keluarga, diabetes melitus, arteriosklerosis, pemakaian kortikosteroid jangka panjang, miopia tinggi dan progresif.

  1. Manifestasi klinik

Gejala-gejala terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata. Penyakit berkembang secara lambat namun pasti. Penampilan bola mata seperti normal dan sebagian tidak mempunyai keluhan pada stadium dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak karena pandangan gelap, lebih kabur, lapang pandang sempit, hingga kebutaan permanen.

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan tekanan bola mata dengan palpasi dan tonometri menunjukkan peningkatan. Nilai dianggap abnormal 21-25 mmHg dan dianggap patologik diatas 25 mmHg.

Pada funduskopi ditemukan cekungan papil menjadi lebih lebar dan dalam, dinding cekungan bergaung, warna memucat, dan terdapat perdarahan papil. Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan lapang pandang menyempit, depresi bagian nasal, tangga Ronne, atau skotoma busur.

  1. Penatalaksanaan

Pasien diminta datang teratur 6 bulan sekali, dinilai tekanan bola mata dan lapang pandang. Bila lapang pandang semakin memburuk,meskipun hasil pengukuran tekanan bola mata dalam batas normal, terapi ditingkatkan. Dianjurkan berolahraga dan minum harus sedikit-sedikit.

 

  1. D.    ASUHAN KEPERAWATAN

1).    Pengkajian

a)      Aktivitas / Istirahat           :

Perubahan aktivitas biasanya / hobi      sehubungan dengan gangguan penglihatan.

b)      Makanan / Cairan              :

Mual, muntah (glaukoma akut)

c)      Neurosensori                     :

Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap (katarak).

Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia(glaukoma akut).

Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.

Tanda                                :

Papil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan.

Peningkatan air mata.

d)     Nyeri / Kenyamanan         :

Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis)

Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).

e)      Penyuluhan / Pembelajaran

Riwayat keluarga glaukoma, DM, gangguan sistem vaskuler.

Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh: peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin.

Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.

2).    Pemeriksaan Diagnostik

(1)   Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.

(2)   Lapang penglihatan           :    Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.

(3)   Pengukuran tonografi       :  Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)

(4)   Pengukuran gonioskopi     :Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma.

(5)   Tes Provokatif                   :digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau hanya meningkat ringan.

(6)   Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma.

(7)   Darah lengkap, LED         :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi.

(8)   EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi,PAK.

(9)   Tes Toleransi Glukosa       :menentukan adanya DM.

E.     Prioritas Keperawatan

(1)   Mencegah penyimpangan penglihatan lebih lanjut.

(2)   Meningkatkan adaptasi terhadap perubahan/penurunan ketajaman penglihatan.

(3)   Mencegah komplikasi.

(4)   Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan.

F.     Tujuan Pemulangan

(1)   Penglihatan dipertahankan pada tingkat sebaik mungkin.

(2)   Pasien mengatasi situasi dengan tindakan positif.

(3)   Komplikasi dicegah/minimal.

(4)   Proses penyakit/prognosis dan program terapi dipahami.

G.    Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan sensori perseptual:penglihatan b.d gangguan penerimaan;gangguan status organ ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.

Kriteria Hasil: – Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan

– Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman

penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.

Intervensi      : – Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan

– Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan

/kemungkinan kehilangan penglihatan

– Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung

tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis

– Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani

keterbatasan penglihatan, contoh, kurangi kekacauan,

atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang

terlihat; perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan

malam.

–  Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi

  1. Ansietas b. d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup.

Kriteria Hasil: -Pasien tampak rileks dan melaporkan ansitas menurun

Sampai tingkat dapat diatasi.

-Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah

-Pasien menggunakan sumber secara efektif

Intervensi  :    -Kaji tingkat ansitas, derajat pengalaman nyeri/timbul

Nya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.

-Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan

kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan

mencegah kehilangan penglihatan tambahan.

-Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengeks-

presikan perasaan.

-Identifikasi sumber/orang yang menolong.

  1. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b.d kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi, ditandai dengan ;pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi komplikasi yang dapat dicegah.

Kriteri Hasil: -Pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan

Pengobatan.

-Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda dengan

proses penyakit

-Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan

alasan tindakan.

Intervensi  :   -Diskusikan perlunya menggunakan identifikasi, contoh

Gelang Waspada-Medik

-Tunjukkan tehnik yang benar pemberian tetes mata.

-Izinkan pasien mengulang tindakan.

-Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh tetes

mata. Diskusikan obat yang harus dihindari, contoh

midriatik, kelebihan pemakaian steroid topikal.

-Identifikasi efek samping/reaksi merugikan dari pengobatan

(penurunan nafsu makan, mual/muntah, kelemahan,

jantung tak teratur dll.

-Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola

hidup

-Dorong menghindari aktivitas,seperti mengangkat berat/men

dorong, menggunakan baju ketat dan sempit.

-Diskusikan pertimbangan diet, cairan adekuat dan makanan

berserat.

-Tekankan pemeriksaan rutin.

-Anjurkan anggota keluarga memeriksa secara teratur tanda

glaukoma.

 

Tinggalkan komentar

askep ulkus kornea

LAPORAN PENDAHULUAN

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

 ULKUS KORNEA

 

 

A. Pengertian

Keratitis ulseratif yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu  terdapatnya destruksi (kerusakan) pada bagian epitel kornea. (Darling,H Vera,  2000, hal 112)

IB. Etiologi

Faktor penyebabnya  antara lain:

v  Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal), dan  sebagainya

v  Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka

v  Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : oedema kornea kronik, exposure-keratitis (pada lagophtalmus, bius umum, koma) ; keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superfisialis  virus.

v  Kelainan-kelainan sistemik; malnutrisi, alkoholisme, sindrom Stevens-Jhonson, sindrom defisiensi imun.

v  Obat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun, misalnya : kortikosteroid, IUD, anestetik lokal dan golongan imunosupresif.

 

Secara etiologik ulkus kornea dapat disebabkan oleh :

  • Bakteri

Kuman yang murni dapat menyebabkan ulkus kornea adalah streptokok pneumoniae, sedangkan bakteri lain menimulkan ulkus kornea melalui faktor-faktor pencetus diatas.

  • Virus : herpes simplek, zooster, vaksinia, variola
  • Jamur : golongan kandida, fusarium, aspergilus, sefalosporium
  • Reaksi hipersensifitas
  • Reaksi terhadap stapilokokus (ulkus marginal), TBC (keratokonjungtivitis flikten), alergen tak diketahui (ulkus cincin)

(Sidarta Ilyas, 1998, 57-60)

C. Tanda dan Gejala

–          Pada ulkus yang menghancurkan membran bowman dan stroma, akan menimbulkan sikatrik  kornea.

–          Gejala subyektif pada ulkus kornea sama seperti gejala-gejala keratitis. Gejala obyektif berupa injeksi silier, hilangnya sebagian jaringan kornea dan adanya infiltrat. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion.

–          Fotofobia

–          Rasa sakit dan lakrimasi

(Darling,H Vera,  2000, hal 112)

 

D . MACAM-MACAM ULKUS KORNEA  SECARA DETAIL

Ulkus kornea dibagi dalam bentuk :

1. Ulkus kornea sentral meliputi: 

a. Ulkus kornea oleh bakteri

Bakteri yang ditemukan pada hasil kultur ulkus dari kornea yang tidak ada faktor pencetusnya (kornea yang sebelumnya betul-betul sehat) adalah :

–                    Streptokokok pneumonia

–                    Streptokokok alfa hemolitik

–                    Pseudomonas aeroginosa

–                    Klebaiella Pneumonia

–                    Spesies Moraksella

Sedangkan dari ulkus kornea yang ada faktor pencetusnya adalah bakteri patogen opportunistik yang biasa ditemukan di kelopak mata, kulit, periokular, sakus konjungtiva, atau rongga hidung yang pada keadaan sistem barier kornea normal tidak menimbulkan infeksi. Bakteri pada kelompok ini adalah :

–                    Stafilokukkus epidermidis

–                    Streptokokok Beta Hemolitik

–                    Proteus

 

Ulkus kornea oleh bakteri Streptokokok

Bakteri kelompok ini yang sering dijumpai pada kultur dari infeksi ulkus kornea adalah :

–                    streptokok pneumonia (pneumokok)

–                    streptokok viridans (streptokok alfa hemolitik0

–                    streptokok pyogenes (streptokok beta hemolitik)

–                    streptokok faecalis (streptokok non-hemolitik)

Walaupun streptokok pneumonia adalah penyebab yang biasa terdapat pada keratitis bakterial, akhir-akhir ini prevalensinya banyak digantikan oleh stafilokokus dan pseudomonas.

Ulkus oleh streptokok viridans lebih sering ditemukan mungkin disebabkan karena pneumokok adalah penghuni flora normal saluran pernafasan, sehingga terdapat semacam kekebalan. Streptokok pyogenes walaupun seringkali merupakan bakteri patogen untuk bagian tubuh yang lain, kuman ini jarang menyebabkan infeksi kornea. Ulkus oleh streptokok faecalis didapatkan pada kornea yang ada faktor pencetusnya.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri Streptokokok

Ulkus berwarna kuning keabu-abuan, berbetuk cakram dengan tepi ulkus menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karen aeksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia

Pengobatan : Sefazolin, Basitrasin dalam bentuk tetes, injeksi subkonjungtiva dan intra vena

 

Ulkus kornea oleh bakteri Stafilokokkus

Infeksi oleh Stafilokokus paling sering ditemukan. Dari 3 spesies stafilokokus Aureus, Epidermidis dan Saprofitikus, infeksi oleh Stafilokokus Aureus adalah yang paling berat, dapat dalam bentuk : infeksi ulkus kornea sentral, infeksi ulkus marginal, infeksi ulkus alergi (toksik).

Infeksi ulkus kornea oleh Stafilokokus Epidermidis biasanya terjadi bila ada faktor penceus sebelumnya seperti keratopati bulosa, infeksi herpes simpleks dan lensa kontak yang telah lama digunakan.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri Stafilokokkus

Pada awalnya berupa ulkus yang berwarna putih kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epithel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai oedema stroma dan infiltrasi sel lekosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus sering kali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Infeksi kornea marginal biasanya bebas kuman dan disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap  Stafilokokus Aureus.

 

Ulkus kornea oleh bakteri Pseudomonas

Berbeda dengan ulkus kornea sebelumnya, pada ulkus pseudomonas bakteri ini ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Bakteri pseudomonas bersifat aerob obligat dan menghasilkan eksotoksin yang menghambat sintesis protein. Keadaan ini menerangkan mengapa pada ulkus pseudomonas jaringan kornea cepat hancur dan mengalami kerusakan. Bakteri pseudomonas dapat hidup dalam kosmetika, cairan fluoresein, cairan lensa kontak.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri pseudomonas

Biasanya dimulai dengan ulkus kecil dibagian sentral kornea dengan infiltrat berwarna keabu-abuan disertai oedema epitel dan stroma. Ulkus kecil ini dengan cepat melebar dan mendalam serta menimbulkan perforasi kornea. Ulkus mengeluarkan discharge kental berwarna kuning kehijauan.

Pengobatan : gentamisin, tobramisin, karbesilin yang diberikan secara lokal, subkonjungtiva serta intra vena.

 

b. Ulkus kornea oleh virus

Ulkus kornea oleh virus herpes simpleks cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral.

 

c.Ulkus kornea oleh jamur

Ulkus kornea oleh jamur banyak ditemukan, hal ini dimungkinkan oleh :

–                    Penggunaan antibiotika secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama atau pemakaian kortikosteroid jangka panjang

–                    Fusarium dan sefalosporium menginfeksi kornea setelah suatu trauma yang disertai lecet epitel, misalnya kena ranting pohon atau binatang yang terbang mengindikasikan bahwa jamur terinokulasi di kornea oleh benda atau binatang yang melukai kornea dan bukan dari adanya defek epitel dan jamur yang berada di lingkungan hidup.

–                    Infeksi oleh jamur lebih sering didapatkan di daerah yang beriklim tropik, maka faktor ekologi ikut memberikan kontribusi.

Fusarium dan sefalosporium terdapat dimana-mana, ditanah, di udara dan sampah organik. Keduanya dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan pada manusia dapat diisolasi dari infeksi kulit, kuku, saluran kencing.

Aspergilus juga terdapat dimana-mana dan merupakan organisme oportunistik , selain keratitis aspergilus  dapat menyebabkan endoftalmitis eksogen dan endogen, selulitis orbita, infeksi saluran lakrimal.

Kandida adalah jamur yang paling oportunistik karena tidak mempunyai hifa (filamen) menginfeksi mata yang mempunyai faktor pencetus seperti exposure keratitis, keratitis sika, pasca keratoplasti, keratitis herpes simpleks dengan pemakaian kortikosteroid.

Pengobatan : Pemberian obat anti jamur dengan spektrum luas, apabila memungkinkan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan tes sensitifitas untuk dapat memilih obat anti jamur yang spesifik.

 

2. Ulkus marginal

Ulkus marginal adalah peradangan kornea bagian perifer dapat berbentuk bulat atau dapat juga rektangular (segiempat) dapat satu atau banyak dan terdapat daerah kornea yang sehat dengan limbus. Ulkus marginal dapat ditemukan pada orang tua dan sering dihubungkan dengan penyakit rematik atau debilitas. Dapat juga terjadi ebrsama-sama dengan radang konjungtiva yang disebabkan oleh Moraxella, basil Koch Weeks dan Proteus Vulgaris. Pada beberapa keadaan dapat dihubungkan dengan alergi terhadap makanan. Secara subyektif ; penglihatan pasien dengan ulkus marginal dapat menurun disertai rasa sakit, lakrimasi dan fotofobia. Secara obyektif : terdapat blefarospasme, injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang sejajar dengan limbus.

Pengobatan : Pemberian kortikosteroid topikal akan sembuh dalam 3 hingga 4 hari, tetapi dapat rekurens. Antibiotika diberikan untuk infeksi stafilokok atau kuman lainnya. Disensitisasi dengan toksoid stafilokkus dapat memberikan penyembuhan yang efektif.

 

 

  1. a.      Ulkus cincin

Merupakan ulkus kornea perifer yang dapat mengenai seluruh lingkaran kornea, bersifat destruktif dan biasaya mengenai satu mata.

Penyebabnya adalah reaksi alergi dan ditemukan bersama-sama penyakit disentri basile, influenza berat dan penyakit imunologik. Penyakit ini bersifat rekuren.

Pengobatan  bila tidak erjad infeksi adalah steroid saja.

  1. b.      Ulkus kataral simplek

Letak ulkus peifer yang tidak dalam ini berwarna abu-au dengan subu terpanjag tukak sejajar dengan limbus. Diantara infiltrat tukak yang akut dengan limbus dtepiya terlihat bagian yang bening.

Terjadi ada pasien lanut usia.

Pengobatan dengan memberikan antibiotik, steroid dan vitamin.

  1. c.      Ulkus Mooren

Merupakan ulkus kronik yang biasanya mulai dari bagian perifer kornea berjalan progresif ke arah sentral tanpa adaya kecenderungan untuk perforasi. Gambaran khasnya yaitu terdapat tepi tukak bergaung dengan bagan sentral tanpa adanya kelainan dalam waktu yang agak lama. Tukak ini berhenti jika seluuh permukaan kornea  terkenai.

Penyebabya adalah hipersensitif terhadap tuberkuloprotein, virus atau autoimun.

Keluhannya biasanya rasa sakit berat pada mata.

Pengobatan degan steroid, radioterapi. Flep  konjungtiva, rejeksi konjungtiva, keratektomi dan keratoplasti.

(Sidarta Ilyas, 1998, 57-60)

 

E. Penatalaksanaan :

Pasien dengan ulkus kornea berat biasanya dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali), tetes antimikroba dan pemeriksaan berkala oleh ahli opthalmologi. Cuci tangan secara seksama adalah wajib. Sarung tangan harus dikenakan pada setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata. Kelopak mata harus dijaga kebersihannya, dan perlu diberikan kompres dingin. Pasien dipantau adanya peningkatan tanda TIO. Mungkin diperlukan asetaminofen untuk mengontrol nyeri. Siklopegik dan midriatik mungkin perlu diresep untuk mengurangi nyeri dan inflamasi.  Tameng mata (patch) dan lensa kontak lunak tipe balutan harus dilepas sampai infeksi telah terkontrol, karena justru dapat memperkuat pertumbuhan mikroba. Namun kemudian diperlukan untuk mempercepat penyembuhan defek epitel.

F. Pemeriksaan Diagnostik :

  1. Kartu mata/ snellen telebinokuler  (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan )
  2. Lapang penglihatan
  3. Pengukuran tonografi : mengkaji TIO, normal 12  –   25 mmHg
  4. Pemeriksaan oftalmoskopi
  5. Pemeriksaan Darah lengkap, LED
  6. Pemeriksaan EKG
  7. Tes toleransi glukosa

 

G. Pengkajian :

  1. Aktifitas / istirahat :  perubahan aktifitas
  2. Neurosensori : penglihatan kabur, silau
  3. Nyeri  : ketidaknyamanan, nyeri tiba-tiba/berat menetap/tekanan pada & sekitar mata
  4. Keamanan  : takut, ansietas

 

(Dongoes, 2000)

 

Diagnosa Keperawatan :

  1. Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pasca operatif, pemberian obat

Intervensi Keperawatan:

–                    Kaji derajat dan durasi gangguan visual

–                    Orientasikan pasien pada lingkungan yang baru

–                    Jelaskan rutinitas perioperatif

–                    Dorong untuk menjalankan kebiasaan hidup sehari-hari bila mampu

–                    Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.

  1. Risiko terhadap cedera yang  berhubungan dengan kerusakan penglihatan

Intervensi  Keperawatan :

–                    Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pasca operasi sampai stabil

–                    Orientasikan pasien pada ruangan

–                    Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperlukan

–                    Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma

–                    Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata

  1. Nyeri yang berhubungan dengan trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi bedah atau pemberian tetes mata dilator

Intervensi Keperawatan :

–                    Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep

–                    Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul

–                    Kurangi tingkat pencahayaan

–                    Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat

  1. Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan

Intervensi Keperawatan :

–                    Beri instruksi pada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala, komplikasi yang harus segera dilaporkan pada dokter

–                    Berikan instruksi lisan dan  tertulis untuk pasien dan orang yang berarti mengenai teknik yang benar dalam memberikan obat

–                    Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan

–                    Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN ULKUS KORNEA PADA NY. L DI RUANG A4  RUMAH SAKIT DR. KARIADI SEMARANG

 

  1. BIODATA
    1. Identitas Pasien

Nama                     :     Ny . L

Umur                     :     68 tahun

Pendidikan            :     SD

Pekerjaan              :     –

Agama                   :     Islam

Suku                       :     Jawa

Status                    :     Menikah

Alamat                   :     Pedurungan – Semarang

  1. Identitas Penanggung Jawab

Nama                     :     Ny.  S

Umur                     :     43  tahun

Pekerjaan              :     Swasta

Hubungan dg pasien    :           Anak  Kandung

  1. Catatan Masuk

Tanggal Masuk       :     21 Mei 2004

Jam                       :     12.. 30  WIB

Cara                       :     Sendiri

Dx. Medis               :     Ulkus Kornea

Register                 :     738885

Tanggal Pengkajian     :           24  Mei  2004

  1. RIWAYAT KESEHATAN

1.  Keluhan  Utama     :     Nyeri pada mata kiri

2.   Riwayat Kesehatan Sekarang  :

Sebelum masuk rumah sakit,  mata kiri berdarah, nyeri, cekot-cekot, mblobok, dan tidak bisa melihat.

Pada saat dilakukan pengkajian pasien mengeluh mata kiri terasa nyeri, skala nyeri 7,  bertambah nyeri jika digunakan untuk bergerak., pasien post op hari ke : 3

 

3.   Riwayat Kesehatan Dahulu      :

Kurang lebih 10 tahun yang lalu, pasien sakit mata sebelah kiri, mata terasa cekot-cekot, nrocos, kemudian dibawa ke RSDK dan  kemudian keluhan berkurang

4.   Riwayat Kesehatan Keluarga   :

Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti pasien, tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit menular / penyakit keturunan

  1. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

Pasien sekarang sudah tidak bekerja, pasien  tinggal   bersama anaknya yang kedua,. Kesan sosial ekonomi : cukup

  1. PENGKAJIAN FISIK & POLA FUNGSI
    1. Kardio Respiratori
      1. Tanda-Tanda Vital

–  Suhu       :  36,5 º C                     –  Nadi              :     88  X / menit

–  TD           :   130 / 80 mmHg        –  Pernafasan   :     20  X / menit

  1. Respirasi :  Dada simetris, tidak terdapat wheezing, tidak ada retraksi dada, ronchi (-)
  2. Sirkulasi  :   Nyeri dada (-),  oedema  (-)
  3. Kesadaran  :  komposmentis
  4. Makan-Minum / Nutrisi : makan 3 X/hari, porsi satu piring, komposisi : nasi, lauk, sayur dan kadang buah, tidak ada mual, muntah (-) minum sehari  ±  8 liter
  5. Eliminasi  :  Selama   sakit, klien  BAB  1X dalam 2 hari, konsistensi  lunak,, konstipasi  (-),  BAK  ±  5 kali sehari, tidak ada keluhan waktu miksi
  6. Integritas kulit  :  Kulit lembab, tidak terdaat ikterik, turgor baik
  7. Melakukan mobilisasi / Skeletal  :  keadaan tulang :  kontinyuitas, tangan yang dominan : kanan, bahu simetris, pasien dalam ADL  dengan bantuan minimal
  8. Istirahat & Tidur  :  tidak mengalami gangguan tidur baik sebelum maupun selama sakit, tidur  ±  7 jam sehari
  9. Kebersihan Diri  :  selama sakit mandi dengan diseka  pagi dan sore, gosok gigi 2 x sehari
  10. Sensorik  :  Pasien mengalami gangguan sensorik : penglihatan,  mata kiri berdarah, nyeri, cekot-cekot, tidak ada riwayat trauma, Status opthalmologi : OS = VOS = 0, palpasi : oedema (-), spasme (-),, konjungtiva : injeksi (+), sekret (-), korena : ruptur , iris : prolaps, CoA : sulit dinilai, OD = VOD = 3/60, lensa keruh tidak merata, OS : ulkus kornea + ruptur kornea ; pasien tidak mengalami gangguan  pendengaran, penciuman normal
  11. Lingkungan / Sosial  : pasien tidak  mempunyai kebiasaan merokok, minum  alkohol.
  12. Ekonomi : pasien tinggal bersama dengan anaknya yang kedua, suami sudah meninggal  2 tahun yang lalu, kondisi bangunan semi permanen, sumber air minum : sumur
  13. HARAPAN YANG INGIN DIPEROLEH DARI PERAWAT : Pasien ingin segera sembuh, sehingga dapat berkumpul dengan keluarga dirumah
  14. PEMERIKSAAN PENUNJANG / Laboratorium :  tanggal  21  Mei  2004

–                    Hematologi :

Hemoglobin :  12 gr%

Hematokrit   :  36,3  gr%

Eritrosit        :  4,02  juta/mmk

MCH              :  29,7  Pg

MCV              :  90,20  fl

PDW              :  15,5  fl

MCHC           :  33  g/dl

Lekosit          :  8,97  ribu/mmk

Trombosit    :  338   ribu/mmk

RDW              :  17,7  %

MPV              :  7,17  fl

–                    Kimia Klinik

Glukosa        :  103 mg/dl

Urea              :  23   mg/dl

Creatinin      :  0,96  mg/dl

–                    Elektrolit

Natrium        :  145 mmOl/L                 Kalium             :           4,4   mmOl/L

Clorida          :  110  mmOl/L                Calsium           :           2,39  mmOl/L

  1. THERAPI

 

 

 

ANALISA  DATA

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No.

Data  Fokus

Masalah

TTD

1. DS  :  pasien mengeluh nyeri pada mata kiri, mata terasa cekot-cekot

DO  :  Terdapat luka post operasi pada mata kiri,  mata kiri berdarah, Status opthalmologi : OS = VOS = 0, palpasi : oedema (-), spasme (-),, konjungtiva : injeksi (+), sekret (-), korena : ruptur , iris : prolaps, CoA : sulit dinilai, OD = VOD = 3/60, lensa keruh tidak merata, OS : ulkus kornea + ruptur

Nyeri   b.d  trauma pembedahan  

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No.

DX. Keperawatan

Tujuan

Intervensi

TTD

1

Nyeri   b.d  trauma pembedahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama  3  X 24 jam rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil : klien mengungkapkan nyeri berkurang, skala  : 1 – 3 –        Berikan obat untuk mengontrol nyeri

–        Kurangi tingkat pencahayaan

 

 

 

 

IMPLEMENTASI

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No. DP

Hari/Tgl

Implementasi

Evaluasi

TTD

1.

Senin, 24 Mei 2004 –        Berikan obat untuk mengontrol nyeri

 

 

–        Kurangi tingkat pencahayaan

S :  Klien mengatakan mata terasa nyeri

O  :  Post Op hari ke-3

A  :   Masalah belum teratasi

P   :  – lanjutkan intervensi

–        Lakukan ganti balut

–        Anjurkan untuk nafas dalam bila terasa nyeri

–        Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh luka

–        Tekankan pentingnya tidak menyentuh luka post op

–        Observasi tanda terjadinya infeksi

–        Anjurkan untuk mnegurangi aktifitas

–        Berikan posisi setengah duduk

 

 

ANALISA  DATA

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No.

Data  Fokus

Masalah

TTD

1. DS  :  pasien mengeluh nyeri pada mata kiri, mata masih terasa cekot-cekot

DO  :  Terdapat luka post operasi pada mata kiri,  mata kiri berdarah, rembesan darah (-), Status opthalmologi : OS = VOS = 0, palpasi : oedema (-), spasme (-),, konjungtiva : injeksi (+), sekret (-), korena : ruptur , iris : prolaps, CoA : sulit dinilai, OD = VOD = 3/60, lensa keruh tidak merata, OS : ulkus kornea + ruptur

Nyeri   b.d  trauma pembedahan  
2. DS  : Pasien mengatakan perutnya terasa mual, nafsu makan berkurang

DO : makan  habis  ¼ porsi

Gangguan pola makan b.d  kurangnya nafsu makan  

 

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

 

 

No DP

Tujuan

Intervensi

TTD

2

Setelah dilakukan tindakan kep. selama  3  X 24 jam rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil : nafsu makan meningkat –        Berikan Penjelasan tentang pentingnya nutrisi untuk mempercepat kesembuhan

–        Anjurkan untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering

–        Berikan obat sesuai advis dokter untuk mengurangi rasa mual

 

IMPLEMENTASI

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No. DP

Hari/Tgl

Implementasi

Evaluasi

TTD

1.

Selasa, 25 Mei 2004 –        Memberikan obat untuk mengontrol nyeri

–        Mengurangi tingkat pencahayaan

–        Mengganti balut

–        Menganjurkan untuk nafas dalam bila terasa nyeri

–        Mendiskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh luka

–        Menekankan pentingnya tidak menyentuh luka post op

–        Mengobservasi tanda terjadinya infeksi

–        Menganjurkan untuk mnegurangi aktifitas

–        Memberikan posisi setengah duduk

S :  Klien mengatakan mata terasa nyeri

O  :  Post Op hari ke-4

A  :   Masalah belum teratasi

P   :  – lanjutkan intervensi

 

 

2

Selasa, 25 Mei 2004 –        Memberikan Penjelasan tentang pentingnya nutrisi untuk mempercepat kesembuhan

–        Menanjurkan untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering

–        Memberikan obat sesuai advis dokter untuk mengurangi rasa mual

S :  Klien mengatakan tidak nafsu makan

O  :  makan habis ¼ porsi

A  :   Masalah belum teratasi

P   :  – lanjutkan intervensi

 

 

IMPLEMENTASI

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No. DP

Hari/Tgl

Implementasi

Evaluasi

TTD

1.

Rabu, 26 Mei 2004 –        Memberikan obat untuk mengontrol nyeri

–        Mengurangi tingkat pencahayaan

–        Mengganti balut

–        Menganjurkan untuk nafas dalam bila terasa nyeri

–        Mendiskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh luka

–        Menekankan pentingnya tidak menyentuh luka post op

–        Mengobservasi tanda terjadinya infeksi

–        Menganjurkan untuk mnegurangi aktifitas

–        Memberikan posisi setengah duduk

S :  Klien mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri 3

O  :  KU luka baik, tidak ada tanda-tanda infeksi

A  :   Masalah teratasi

 

 

2

Rabu, 26 Mei 2004 –        Memberikan Penjelasan tentang pentingnya nutrisi untuk mempercepat kesembuhan

–        Menanjurkan untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering

–        Memberikan obat sesuai advis dokter untuk mengurangi rasa mual

S :  Klien mengatakan nafsu makan meningkat

O  :  makan habis 1 porsi

A  :   Masalah teratasi

 

 

Tinggalkan komentar

ca nasofaring

LAPORAN PENDAHULUAN

ASKEP PADA KLIEN DENGAN CA NASOFARING

 

 

A. PENGERTIAN

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring.  Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)

 

B. EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI

Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin  dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).

Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit  juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).

 

 

 

C.     Tanda dan Gejala

Gejala karsinoma nasofaring dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu antara lain :

  1. Gejala nasofaring

Adanya epistaksis ringan atau sumbatan hidung.Terkadang gejala belum ada tapi tumor sudah tumbuh karena tumor masih terdapat dibawah mukosa (creeping tumor)

  1. Gangguan pada telinga

Merupakan gejala dini karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan dapat berupa tinitus, tuli, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia)

  1. Gangguan mata dan syaraf

Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia, juling, eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik.

Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika seluruh saraf otak terkena disebut sindrom unialteral. Prognosis jelek bila sudah disertai destruksi tulang tengkorak.

  1. Metastasis ke kelenjar leher

Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat. Hal inilah yang mendorong pasien untuk berobat.

Suatu kelainan nasofaring yang disebut lesi hiperplastik nasofaring atau LHN telah diteliti dicina yaitu 3 bentuk yang mencurigakan pada nasofaring seperti pembesaran adenoid pada orang dewasa, pembesaran nodul dan mukositis berat pada daerah nasofaring. Kelainan ini bila diikuti bertahun – tahun akan menjadi karsinoma nasofaring. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 147 -148).

 

D.    Pemeriksaan Penunjang

a. Nasofaringoskopi

b. Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan mulut. Dilakukan dengan anestesi topikal dengan Xylocain 10 %.

  1. Pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan.

d.Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui infeksi virus E-B.

e. Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.

(Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 148 – 149).

 

E.      Penatalaksanaan Medis

  1. Radioterapi merupakan pengobatan utama
  2. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus.

Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil. Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat “RADIOSENSITIZER”.

F.      Pengkajian

a.        Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker payudara

b.       Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.

c.        Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).

d.       Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)

e.        Tanda dan gejala :

v  Aktivitas

Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.

v  Sirkulasi

Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah, epistaksis/perdarahan hidung.

v  Integritas ego

Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.

v  Eliminasi

Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen.

v  Makanan/cairan

Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.

 

v  Neurosensori

Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus

v  Nyeri/kenyamanan

Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran

v  Pernapasan

Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan

v  Keamanan

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam, ruam kulit.

v  Seksualitas

Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.

v  Interaksi sosial

Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung

(Doenges, 2000)

 

 

H.  Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

1.        Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi karingan saraf

Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol

Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri .

Intervensi :

S  Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi

S  Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan aktivitas hiburan.

S  Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik.

S  Evaluasi penghilangan nyeri atau kontrol

S  Kolaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon atau campuran narkotik.

 

2. Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder metastase tumor

Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi

Kriteria hasil : mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan

Intervensi :

S  Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau dua mata terlibat.

S  Orientasikan pasien terhadap lingkungan

S  Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi

S  Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur

S  Bicara dengan gerak mulut yang jelas

S  Bicara pada sisi telinga yang sehat

 

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,   mual muntah sekunder kemoterapi radiasi

Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.

Kriteria hasil :

  • Melaporkan penurunan mual dan insidens muntah
  • Mengkonsumsi makanan dan cairan yang adekuat
  • Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab
  • Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan

     Intervensi :

S  Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan toleransi pasien

S  Berikan dorongan higiene oral yang sering

S  Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan

S  Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah pemberian obat, kaji masukan dan haluaran.

S  Pantau masukan makanan tiap hari.

S  Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri)

S  Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat.

S  Kontrol faktor lingkungan (bau dan panadangan yang tidak sedap dan kebisingan)

 

4. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder imunosupresi

Tujuan : tidak terjadi infeksi

Kriteria hasil :

  • Menunjukkan suhu normal dan tanda-tanda vital normal
  • Tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi : edema setempat, eritema, nyeri.
  • Menunjukkan bunyi nafas normal, melakukan nafas dalam untuk menegah disfungsi dan infeksi respiratori

Intervensi :

S  Kaji pasienterhadap bukti adanya infeksi :

S  Periksa tanda vital, pantau jumlah SDP, tempat masuknya patogen, demam, menggigil, perubahan respiratori atau status mental, frekuensi berkemih atau rasa perih saat berkemih

S  Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik pada staf dan pengunjung, batasi pengunjung yang mengalami infeksi.

S  Tekankan higiene personal

S  Pantau suhu

S  Kaji semua sistem (pernafasan, kulit, genitourinaria)

 

5. Resti kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologi, efek radiasi kemoterapi

Tujuan : integritas kulit tetap terjaga

Kriteria hasil :

Menunjukkan perubahan yang minimal pada kulit dan menghindari trauma pada area kulit yang sakit

Intervensi :

S  Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping kanker

S  Mandikan dengan menggunakan air hangat dan sabun ringan

S  Hindari menggosok atau menggaruk area

S  Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun, bedak, salep apapun kecuali diijinkan dokter.

S  Hindarkan pakaian yang ketat pada aea tersebut

S  Oleskan vitamin A dan D pada area tersebut

S  Tinjau ulang efek samping dermatologis yang dicurigai pada kemoterapi.

 

6. Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral behubungan dengan efek samping agen kemoterapi radiasi

Tujuan : tidak terjadi gangguan pada membran mukosa

Kriteria hasil :

  • Menunjukkan mukosa oral yang bersih dan utuh
  • Tidak menunjukkan adanya ulserasi atau infeksi pada rongga mulut
  • Melaporkan tidak adanya nyeri, kesulitan menelan dan dehidrasi

Intervensi :

S  Kaji kesehatangigi dan hihiene oral secara periodik

S  Kaji rongga mulut tiap hari, perhatikan perubahan pada integritas membran mukosa oral

S  Instruksikan mengenai perubahahn diet misalnya hindari makanan panas atau pedas, anjurkan penggunaan sedotan, mencerna makanan lembut atau diblender.

S  Pantau dan jelaskan tanda-tanda tentang superinfeksi oral

S  Mulai program higiene oral : gunakan pencuci mulut dari salin hangat, larutan pelarut dari hidrogen peroksida, sikat dengan sikat gigi/benang gigi, pertahankan bibir lembab dengan pelumas bibir.

 

7. Gangguan harga diri berhubugan dengan efek samping radioterapi: kehilangan rambut

Tujuan : gangguan harga diri teratasi

Kriteria hasil : Mengungkapkan perubahan gaya hidup tentang perasaan tidak berdaya, putus asa

Intervensi :

S  Tinjau ulang efek samping yang diantisipasi berkenaan dengan pengobatan tertentu

S  Dorong diskusi tentang/pecahkan masalah tentang efek kanker

S  Akui kesulitan yang mungkin di alami

S  Evaluasi struktur pendukung yang ada dan digunakan oleh pasien /orang terdekat

S  Beri dukungan emosi untuk pasien/orang terdekat selama tes diagnostik dan fase pengobatan

S  Gunakan sentuhan selama interaksi

 

8. Konstipasi/diare berhubungan dengan iritasi mukosa GI sekunder kemoterapi

Tujuan : gangguan defekasi tidak terjadi

Kriteria hasil : Mempertahankan konsistensi atau pola defekasi umum

 

 

Intervensi :

S  Kaji bising usus, gerakan usus termasuk frekuensi, konsistensi.

S  Pantau masukan dna haluaran serta berat badan

S  Dorong masukan cairan adekuat, peningkatan serat diet, latihan

S  Pastikan diet yang tepat; hindari makanan tinggi lemak, makanan serat tinggi, kafein tinggi.

S  Periksa infeksi bila tidak defekasi selama 3 hari atau distensi abdomen.

S  Berikan cairan IV, agen antidiare, laksatif.

 

9. Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan gangguan sistem hematopoetik

Tujuan : perdarahan dapat teratasi

Kriteria hasil :

  • Tanda dan gejala perdarahan teridentifikasi
  • Tidak menunjukkan adanya darah feses, urin atau emesis
  • Tidak menunjukkan perdarahan gusi

Intervensi :

S  Kaji terhadap potensial perdarahan : pantau jumlah trombosit

S  Kaji terhadap perdarahan : petekhie, penurunan Hb Ht, perdarahan dari orifisium tubuh

S  Instruksikan cara-cara meminimalkan perdarahan : gunakan sikat gigi  halus, hindari cairan pembilas mulut komersial, hindari makanan yang sulit dikunyah

S  Lakukan tindakan meminimalkan perdarahan : hindari mengukur suhu rektal, hindari suntikan IM, lembabkan bibir dengan petrolatum, mempertahankan masukan cairan

S  Gunakan pelunak feses atau tingkatkan serat dalam diet.

(Doenges, 2000)

 

Tinggalkan komentar

lp askep leukemia

LAPORAN PENDAHULUAN

ASKEP PASIEN DENGAN LEUKEMIA

 

 

 

PADA PASIEN DENGAN LEUKEMIA

 

 

A.  PENGERTIAN

Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi ssel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.

 

B.  ETIOLOGI

Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :

1.    Faktor genetik : virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T cell leukemia-lymphoma virus/HTLV)

2.    Radiasi ionisasi : lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya

3.    Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik.

4.    Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol

5.    Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot

6.    Kelainan kromosom : Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom Down’s), Trisomi G (Sindrom Klinefelter’s), Sindrom fanconi’s, Kromosom Philadelphia positif, Telangiektasis ataksia.

 

C.  JENIS LEUKEMIA

1.    Leukemia Mielogenus Akut

AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.

2.    Leukemia Mielogenus Kronis

CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.

3.    Luekemia Limfositik Akut

ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal..

4.    Leukemia Limfositik Kronis

CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.  PATHWAYS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E.  TANDA DAN GEJALA

1.    Aktivitas            : kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot.

2.    Sirkulasi             :palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa    pucat.

3.    Eliminsi              : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam,   penurunan haluaran urin.

4.    Integritas ego     : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas.

5.    Makanan/cairan: anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB dan disfagia

6.    Neurosensori      : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang.

7.    Nyeri                  : nyeri abomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati gelisah

8.    Pernafasan         : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas

9.    Keamanan          : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe.

10.     Seksualitas      : perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia.

F.   PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.    Hitung darah lengkap    : menunjukkan normositik, anemia normositik

2.    Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml

3.    Retikulosit : jumlah biasaya rendah

4.    Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)

5.    SDP       : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur

6.    PTT        : memanjang

7.    LDH      : mungkin meningkat

8.    Asam urat serum : mungkin meningkat

9.    Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik

10.  Copper serum   : meningkat

11.  Zink serum       : menurun

12.  Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

 

G. PENATALAKSANAAN

1.    Pelaksanaan kemoterapi

2.    Irradiasi kranial

3.    Terdapat tiga fase pelaksanaan keoterapi :

a.    Fase induksi

Dimulasi 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikostreroid (prednison), vincristin dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan behasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.

b.    Fase Profilaksis Sistem saraf pusat

Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocotison melaui intrathecal untuk mencegah invsi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.

c.    Konsolidasi

Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan unutk mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.

 

 

 

 

 

 

H.  PENGKAJIAN

1.    Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya

2.    Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal kembar monozigot)

3.    Kaji adanya tanda-tanda anemia : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat

4.    Kaji adanya tanda-tanda leukopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi kulit dapat timbul kemerahan atau hiotam tanpa pus

5.    Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan membran mukosa, pembentukan hematoma, purpura; kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medula: limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.

6.    Kaji adanya pembesaran testis, hemAturia, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di sekkitar rektal dan nyeri.

 

I.     DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

1.    Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan menururnnya sistem pertahanan tubuh sekunder gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah limfosit immatur, imunosupresi, peneknan sumsum tulang.

Tujuan : pasien bebas dari infeksi

Kriteria hasil :

  1. Normotermia
  2. Hasil kultur negatif
  3. Peningkatan penyembuhan

Intervensi :

  1. Tempatkan pada ruangan yang khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
  2. Cuci tangan untuk semua petugas dan pengunjung.
  3. Awsi suhu, perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan takikardia, hipotensi, perubahan mental samar.
  4. Cegah menggigil : tingkatkan cairan, berikan mandi kompres

e.    Dorong sering mengubah posisi, napas dalam dan batuk.

f.     Auskultsi bunyi nafas, perhatikan gemericik, ronkhi; inspeksi sekresi terhadap perubahan karakteristik, contoh peningktatan sputum atau sputum kental, urine bau busuk dengan berkemih tiba-tiba atau rasa terbakar.

g.    Inspeksi kulit unutk nyeri tekan, area eritematosus; luka terbuka. Besihkan kulit dengan larutan antibakterial.

h.    Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan sikat gigi halus.

i.      Tingkatkan kebersihan perianal. Berikan rendam duduk menggunakan betadine atau Hibiclens bila diindiksikan.

j.      Berikan periode istirahat tanpa gangguan

k.    Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan.

l.      Hindari prosedur invasif (tusukan jarum dan injeksi) bila mungkin.

m.  Kolaborasi :

q  Awasi pemeriksaan laboratorium misal : hitung darah lerngkap, apakah SDP turun atau tiba-tiba terjadi perubahan pada neutrofil; kultur gram/sensitivitas.

q  Kaji ulang seri foto dada.

q  Berikan obat sesuai indikasi contoh antibiotik.

q  Hindari antipiretik yang mengandung aspirin.

q  Berikan diet rendah bakteri misal makanan dimasak, diproses

2.    Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan : muntah, perdarahan,diare ; penurunan pemasukan cairan : mual,anoreksia ; peningkatan kebutuhan cairan : demam, hipermetabolik

Tujuan : volume cairan terpenuhi

Kriteria hasil :

  1. Volume cairan adekuat
  2. Mukosa lembab
  3. Tanda vital stabil : TD 90/60 mmHg, nadi 100 x/menit, RR  20 x/mnt
  4. Nadi teraba
  5. Haluaran urin 30 ml/jam
  6. Kapileri refill < 2 detik

Intervensi :

  1. Awasi masukan/haluaran. Hitung kehilangan cairan dan keseimbangna cairan. Perhatikan penurunan urin, ukur berat jenis dan pH urin.
  2. Timbang berat badan tiap hari
  3. Awasi TD dan frekuensi jantung
  4. Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan kondisi membran mukosa.
  5. Beri masukan cairan 3-4 L/hari
  6. Inspeksi kulit/membran mukosa untuk petekie, area ekimosis; perhatikan perdarahan gusi, darah warna karat atau samar pada feses dan urin; perdarahan lanjut dari sisi tusukan invsif.
  7. Implementasikan tindakan untuk mencegah cedera jaringan/perdarahan.
  8. Batasi perawatan oral untuk mencuci mulut bila diindikasikan
  9. Berikan diet halus.
  10. Kolaborasi :

q  Berikan cairan IV sesuai indikasi

q  Awasi pemeriksaan laboratorium : trombosit, Hb/Ht, pembekuan.

q  Berikan SDM, trombosit, faktor pembekuan.

q  Pertahankan alat akses vaskuler sentral eksternal (kateter arteri subklavikula, tunneld, port implan)

q  Berikan obat sesuai indikasi : Ondansetron, allopurinol, kalium asetat atau asetat, natrium biukarbonat, pelunak feses.

 

3.    Nyeri berhubungan dengan agen fisikal seperti pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemia; agen kimia pengobatan antileukemik

Tujuan : nyeri teratasi

Kriteria hasil :

  1. Pasien menyatakan nyeri hilang atau terkontrol
  2. Menunjukkan perilaku penanganan nyeri
  3. Tampak rileks dan mampu istirahat

 

Intervensi :

  1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (gunakan skala 0-10)
  2. Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non-verbal misal tegangan otot, gelisah.
  3. Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres.
  4. Tempatkan pada posis nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal.
  5. Ubah posisi secara periodik dan bantu latihan rentang gerak lembut.
  6. Berikan tindakan kenyamanan ( pijatan, kompres dingin dan dukungan psikologis)
  7. Kaji ulang/tingkatkan intervensi kenyamanan pasien sendiri
  8. Evaluasi dan dukung mekanisme koping pasien.
  9. Dorong menggunakan teknik menajemen nyeri contoh latihan relaksasi/nafas dalam, sentuhan.
  10. Bantu aktivitas terapeutik, teknik relaksasi.
  11. Kolaborasi :

q  Awasi kadar asam urat

q  Berika obat sesuai indikasi : analgesik (asetaminofen), narkotik (kodein, meperidin, morfin, hidromorfon)

q  Agen antiansietas (diazepam, lorazepam)

 

4.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, peningkatan laju metabolik

Tujuan : pasien mampu mentoleransi aktivitas

Kriteria hasil :

  1. Peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur
  2. Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan
  3. Menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran misal nadi, pernafasan dan TD dalam batas normal

 

 

Intervensi :

d.   Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas.berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa ganggaun

e.    Implementasikan teknik penghematan energi, contoh lebih baik duduk daripada berdiri, pengunaan kursi untuk madi

f.     Jadwalkan makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai indikasi

g.    Kolaborasi : berikan oksigen tambahan

 

5.    Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia

Tujuan : pasien bebas dari gejala perdarahan

Kriteria hasil :

  1. TD  90/60mmHg
  2. Nadi  100 x/mnt
  3. Ekskresi dan sekresi negtif terhadap darah
  4. Ht 40-54% (laki-laki), 37-47% ( permpuan)
  5. Hb 14-18 gr%

Intervensi :

  1. Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000/ ml, resiko terjadi perdarahan. Pantau Ht dan Hb terhadap tanda perdarahan
  2. Minta pasien untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi
  3. Inspeksi kulit, mulut, hidung urin, feses, muntahan dan tempat tusukan IV terhadap perdarahan
  4. Pantau TV interval sering dan waspadai tanda perdarahan.
  5. Gunakan jarum ukuran kecil
  6. Jika terjadi perdarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tekan perlahan.
  7. Beri bantalan tempat tidur untuk cegh trauma
  8. Anjurkan pada pasien untuk menggunakan sikat gigi halus atau pencukur listrik.

6.    Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan terhentinya aliran darah sekunder adanya destruksi SDM

Tujuan : perfusi adekuat

Kriteria hasil :

  1. Masukan dan haluaran seimbang
  2. Haluaran urin  30 ml/jam
  3. Kapileri refill < 2 detik
  4. Tanda vital stabil
  5. Nadi perifer kuat terpalpasi
  6. Kulit hangat dan tidak ada sianosis

Intervensi :

  1. Awasi tanda vital
  2. Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, kelambatan pengisian kapiler
  3. Catat perubahan tingkat kesadaran
  4. Pertahankan masukan cairan adekuat
  5. Evaluasi terjadinya edema
  6. Kolaborasi :

q    Awasi pemeriksaan laboratorium ; GDA, AST/ALT, CPK, BUN

q    Elektrolit serum, berikan pengganti sesuai indikasi

q    Berikan cairan hipoosmolar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
  2. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
  3. Doenges, Marilynn E. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting Patient Care. Alih Bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC; 1999
  4. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994
  5. Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta : Salemba Medika; 2001

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

askep & lp ca mammae

LAPORAN PENDAHULUAN

ASKEP PADA KLIEN DENGAN KANKER PAYUDARA DI RSDK SEMARANG

 

  1. A.    Pengertian

Kanker payudara adalah gangguan yang dapat mempengaruhi organ dalam tubuh ditandai dengan oleh proliferasi sel abnormal jaringan epitel pada duktus lafiferis atau lobulus pada payudara, membentuk massa yang padat, terbentuk tumor yang sering disebut neoplasma. Neoplasma kemudian menyebar ke jaringan sekitar dan akhirnya mempengaruhi fungsi normal.

  1. B.     Etiologi

–          Tidak ada satupun penyebab spesifik dari kanker payudara, sebaiknya serangkaian faktor genetik hormonal dan kejadian lingkungan dapat menunjang terjadinya kanker. Bukti yang bermunculan menunjukkan bahwa perubahan genetik berkaitan dengan kanker payudara, namun apa yang menyebabkan perubahan belum diketahui.

–          Perubahan genetik ini termasuk perubahan/mutasi dalam gen normal dan pengaruh protein baik yang menekan/meningkatkan perkembangan kanker payudara.

–          Hormon yang dapat berpengaruh dalam kanker payudara adalah normal hormon steroid yang dihasilkan ovarium (hormon estrodiol dan hormon progesteron).

–          Meskipun belum ada penyebab spesifik dari kanker payudara, para peneliti mengidentifikasi sekelompok faktor resiko sebagai berikut :

  1. Riwayat pribadi tentang kanker payudara

Resiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1% tiap tahun.

  1. Anak perempuan/saudara perempuan (hubungan langsung keluarga) dari wanita dengan kanker payudara.

Resikonya meningkat 2x lipat. Jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4-6 x. Jika kanker payudara terjadi pada dua orang saudara langsung.

  1. Menarche dini, resiko meningkat pada wanita yang mengalami menarche sebelum 12 tahun.
  2. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama wanita yang hanya anak pertama, setelah usia 30 tahun mempunyai resiko 2 x lipat dibanding dengan mereka yang punya anak sebelum 20 tahun.
  3. Menopause pada usia lanjut (>50 tahun).
  4. Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara di sekitar perubahan epitel prliferasi mempunyai resiko 2 x lipat untuk mengalami kanker payudara.
  5. Pemajanan terhadap wanita setelah masa pubertas dan sebelum usia      30 tahun.
  6. Obesitas, resiko terendah diantara wanita pasca menopause.
  7. Kontrasepsi oral.
  8. Therapi pengganti hormon.

Terdapat laporan yang membingungkan tentang resiko kanker payudara pada terapi pengganti hormon. Wanita yang menggunakan estrogen suplemen dalam jangka panjang mengalami peningkatan resiko. Sementara penambahan progesteron terhadap pengganti estrogen meningkatkan insiden kanker endometrium. Hal ini tidak menurunkan resiko kanker payudara.

  1. Masukan alkohol

Sedikit peningkatan resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alkohol, bahkan hanya dengan sekali minum dalam sehari. Resiko 2 x lipat diantara wanita yang minum alkohol                    3 x/sehari. Temuan  riset menunjukkan wanita muda minum alkohol lebih rentan mengalami kanker payudara (Brunner & Suddarth, Danielle Gale).

  1. C.    Tahapan Kanker Payudara

Tahapan klinik yang paling banyak digunakan untuk kanker payudara adalah sistem  klasifikasi TNM yang mengevaluasi ukuran tumor, nodus limfe yang terkena dan bukti adanya metastasis yang jauh. Sistem TNM diadaptasi oleh The America Joint Committee on Cancer Staging and Resuid Reformating. Pertahapan ini didasarkan pada fisiologi memberikan prognosis yang lebih akurat, tahap-tahapnya adalah sebagai berikut :

Tahap I       : tumor kurang dari 2 cm, tidak mengalami nodus

Tahap II     : tumor yang lebih besar dari 2 cm, kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe terfiksasi negatif/positif. Tidak terdeteksi metastasis

Tahap III    :  tumor > 5 cm atau tumor dengan sembarang tempat yang menginvasi kulit/dinding, nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, tanpa bukti metastasit

Tahap IV    : terdiri atas tumor dalam sembarang ukuran dengan nodus limfe normal/kankerlosa dan metastase janin

  1. D.    Tipe Kanker Payudara
    1. Karsinoma duktal, menginfiltrasi.

Tipe paling umum (75%) bermetastasis di nodus axila, perognosa buruk.

  1. Karsinoma lobuler menginfiltrasi (5-10%)

Terjadi penebalan pada salah satu/2 payudara bisa menyebar ke tulang, paru, hepar, otak.

  1. Karsinoma medular (60%)

Tumor dalam capsul, dalam duktus, dapat jadi besar, tapi meluasnya lambat.

  1. Kanker musinus (3%), menghasilkan lendir, tumbuh lambat, prognosis lebih baik.
  2. Kanker duktus tubulen (2%)
  1. Karsinoma inflamatom (1-2%) : jarang terjadi, gejala berbeda nyeri tekan dan sangat nyeri, payudara membesar dan keras, edema, retraksi puting susu, cepat berkembang

(Brunner & Suddart).

  1. E.     Tanda dan Gejala Kanker Payudara
    1. Fase awal : asimtomatik
    2. Tanda umum : benjolan/penebalan pada payudara
    3. Tanda dan gejala lanjut : kulit cekung

–          Retraksi/deviasi puting susu

–          Nyeri tekan/raba

–          Kulit tebal dan pori-pori menonjol seperti kulit jeruk

–          Ulserasi pada payudara.

  1. Tanda metastase  : nyeri pada bahu, pinggang, punggung bawah

–          Batuk menetap

–          Anoreksia

–          BB turun

–          Gangguan pencernaan

–          Kabur

–          Sakit kepala

F.     Pemeriksaan Diagnostik

  1. Monografi

Menemukan kanker insito yang kecil yang tidak dapat dideteksi  dengan pemeriksaan fisik.

  1. SCAN (CT, MRI, galfum), ultra sound.

Untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, respon pengobatan

  1. Biopsi (aspirasi, eksisi)

Untuk diagnosis banding dan menggambarkan pengobatan

  1. Penanda tumor

Zat yang dihasilkan dan disekresi oleh dalam serum (alfa feto protein, HCG asam fosfat).

–          Dapat menambah dalam mendiagnosis kanker tetapi lebih bermanfaat sebagai prognosis/monitor terapeutik.

–          Reseptor estrogen/progesteron assay yang dilakukan pada jaringan payudara untuk memberikan informasi tentang manipulasi hormonal.

  1. Tes skrining kimia : elektrolit, tes hepar, hitung sel darah.
  2. Foto toraks
  3. USG


  1. G.    Pathways Kanker Payudara

H.    Penatalaksanaan

Ada 3 kombinasi

–          Pembedahan

–          Kemoterapi

–          Radiasi

  1. Pembedahan

Biopsi biasanya jenis pemebedahan pertama bagi seorang wanita dengan kanker payudara.

Tujuannya adalah menentukan bila ada masa malignasi dan untuk mengetahui jenis kanker payudara, ada 2 prosedur :

  1. Prosedur satu tahap

Anestesi umum dengan potongan beku cepat, bila potongan memperlihatkan malignasi, ahli bedah melakukan mastektomi.

  1. Prosedur 2 tahap : –     biopsi dengan anestesi lokal

–          klien dipulangkan

  1. Terapi Radiasi

Untuk pengobatan tahap 1 & 2

Keuntungan : kontrol tumor lokal/pemeliharaan payudara

Efek  : Reaksi kulit

Fraktur tulang kosta

Pneumonitis

Limfodema

  1. Kemoterapi
    1. Cara pemberian obat sitostatika dapati dilakukan secara :

1)      Per Oral (PO)

2)      Sub Cutan (SC)

3)      Intra Muskuler (IM)

4)      Intra Arteri (IA)

5)      Intra Vena (IV)

6)      Intra Thecal (lewat fs. lumbal)

7)      Intra peritongal (pleural)

  1. Pemilihan vena dan tempat penusukan

1)      Kemoterapi dapat membuat iritasi pada vena dan jaringan lunak

2)      Tempat penusukan harus diganti setiap 72 jam (3 hari)

3)      Vena yang cocok untuk penusukan terasa halus, lembut, cukup besar (jangan vena yang menonjol dan keras)

4)      Vena yang baik dan sering digunakan : basilic, chepalic, metacarpal.

  1. Persiapan kemoterapi

1)      Ukur BB, TB, luas badan, darah lengkap, FS. Ginjal, Fs. Liver, gula darah urine lengkap, EKG, Thorax Ap/lat, ECSW, BMP.

2)      Periksa program terapi yang digunakan, waktu pemberian obat sebelumnya.

3)      Periksa nama klien, dosis obat, jenis obat, cara pemberian obat.

4)      Periksa informed concent (klien dan keluarga)

5)      Siapkan obat sitostatika.

6)      Siapkan cairan Na (L 0,9%, MA 5% atau intralit)

7)      Pengalas plastik, kain

8)      Gaun lengan dengan panjang, masker, topi, kacamata, sarung tangan, sepatu.

9)      Spuit dispossible 5cc, 10 cc, 20 cc, 50 cc.

10)  Set infus dan cateter kecil (ababat)

11)  Alkohol 70% + kapasitas steril (suatu alkohol).

12)  Bak spuit besar

13)  Lebel obat

14)  Pastik (pembuang bekas)

15)  Kardex (catatan khusus)

  1. Cara kerja :

1)      Semua obat dicampur oleh staf farmasi (ahli), kemudian ke bangsal perawatan dalam tempat khusus tertutup. Perawat menerima dengan catatan : (nama klien, jenis obat, dosis obat dan jam pencampuran).

2)      Atau pencampuran dilakukan di ruang khusus tertutup.

–          Meja dialasi pengalas plastik dan kain.

–          Pakai gaun  lengan panjang, topi, masker, kacamata dan sepatu

–          Ambil obat sitostatika SSI program, larutkan dengan NaCl 0,9%, Dextrose 5% atau intralit dan pastikan obat cukup.

–          Masukkan obat ke dalam flabot NaCl 0,9% atau dextrose 5%.

–          Jaga jangan sampai tumpah.

–          Buat label (nama klien, jenis obat, tanggal, jam pemberian, akhir pemberian).

–          Masukkan dalam kontrinen yang telah disediakan

–          Masukkan sampai pada kantong khusus (plastik).

  1. Cara pemberian :

1)      Periksa : nama klien, jenis obat, dosis, banyaknya cairan, cara pemberian, waktu pemberian.

2)      Pakai proteksi

3)      Lakukan teknik aseptik dan antiseptik

4)      Pasang pengalas dan kain.

5)      Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian kemoterapi

6)      Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9%

7)      Berikan obat kanker pelan-pelan.

8)      Bila selesai bilas dengan NaCl 0,9%.

9)      Semua alat habis pakai masuk kantong plastik.

10)  Buka kain proteksi, masukkan plastik.

11)  Catat semua prosedur.

12)  Awasi keadaan kline per ½ jam.

(Simposium keperawatan kemoterapi, 2003).

(Barbara E, Reevens, Bronen & Sudden)

  1. Diagnosa keperawatan
    1. Nyeri berhubungan dengan pembedahan

Tanda         : S    : Trauma pembedahan

O   :  ­ nadi, respirasi, akpasi wajah tegang, kesakitan.

Tujuan        : Meredakan nyeri.

Intervensi   : Kaji skalanya

–          Tinggikan lengan yang sakit dari siku (bahu)

–          Hindari pengukuran TD, infeksi, pengambilan darah di daerah yang sakit.

–          Anjurkan latihan aktif dan pasif pada lengan sakit.

  1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan dan efek radiasi.

Tanda         : S    :

O   : Pengangkatan jaringan

–          Neting ada

–          Perubahan elastisitas kulit

Tujuan        : Mempertahankan integritas kulit

Intervensi   : Observasi daerah operasi

–          Inspeksi jumlah perdarahan, warna kulit

–          Lakukan ganti balut tiap hari

–          Jelaskan pada klien sensasi menurun pada area operatif

–          Jelaskan pada klien tanda-tanda infeksi.

  1. Gangguan cairan tubuh berhubungan dengan mastektomi dan efek samping radiasi dan kemoterapi.

Terapi         : S    : Klien mengekspresikan perasaan malu/minder

O   : Kehilangan payudara

–          Bentuk tubuh yang tidak bagus.

Intervensi   :  Berikan support pada klien untuk melihat insisi pembedahan

–          Fasilitas sistem pendukung keluarga (pasangan/keluarga) klien.

–          Jawab pertanyaan klien dan dampak yang diharapkan atas gaya hidup.

–          Evaluasi perasaan klien mengenal hilangnya payudara identitas seksual, hubungan citra tubuh.

–          Berikan kesempatan pada klien rasa berduka cita atas kehilangan payudara.

–          Izinkan klien untuk mengungkapkan emusi negatif (marah).

–          Anjurkan pada klien untuk komunikasi terbuka klien dengan keluarga.

–          Anjurkan klien untuk mengunjungi klien lain yang mempunyai penyakit yang sama, dengan kemampuan koping yang baik.

  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan efek kemoterapi, radiasi.

Tanda         : S    :

O   : Mual, muntah

–          Adanya stomatitis, diare

–          Anoreksia, BB ¯

Tujuan        :              Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Intervensi   :   Kaji riwayat BB dulu dan pemasukan makan

–          Diskusikan antara pemasukan dan penurunan BB

–          Berikan teknik untuk mengatasi mual

–          Observasi adanya distensi abdomen

–          Sajikan makanan sesuai selera klien.

–          Kolaborasi antiemetik.

DAFTAR PUSTAKA

Gale, Danielle, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, Jakarta.

Brunner & Suddart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, volume 2, Jakarta, EGC.

Doengoes, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.

Price, Anderson (1995), Patofisiologi Proses Penyakit, Edisi 4, Buku Kedua, Jakarta, EGC.

Simposium Keperawatan, (2003), Kemoterapi, Semarang.

Tinggalkan komentar

stroke

STROKE

 

œ Definisi

Suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak.

œ Macam Stroke

  1. Hemoragie Stroke
    1. a.    Perdarahan otak spontan

Lokasi : puntamen 34%, lobus (hemisfer) 24%, thalamus 20%, serebral 7%, pons 6%, nukleus caudatus 9%.

Etiologi :

  1. Utama : hipertensi
  2. Tumor, pemakaian anti koagulasi
  3. Penyakit darah : leukemia
  4. Penyakit pembukuh darah : vaskuler malformation

Gejala :

  • Sakit kepala
  • Timbul mendadak setelah melakukan aktivitas dan emosi

–          muntah

–          pusing

–          kesadaran menurun

–          kelainan neurologis

–          kejang

Diagnostik :

  • Klinis : TTV, pemeriksaan neurologis
  • CT. Scan : anatomi, lokasi, luas herniasi

Prognosa :

  • GCS
  • Umur
  • Tekanan darah
  • Lokasi
  • Cepat/lambat penanganan
  1. b.    Perdarahan sub arakhnoid

Berasal dari pecahnya arteri, vena/kapiler

Insiden : 5-10%

Etiologi : aneurisma, AVM

Gejala :

  • Sakit kepala
  • Muntah-muntah
  • Vertigo dan dizziness
  • Kejang-kejang
  • Kesadaran menurun
  • Hipertermi

Masalah pada aneurisma :

  1. Perdarahan ulang

Hari 1 60%, sampai hari 15<5%

  1. Vasospasme

Timbul hari 3-7, menurun hari 10

Bahaya àterjadi penurunan aliran darah

  1. Hidrocepalus
  • Akut : perdarahan masuk ventrikel  à obstruksi cairan    otak
    • Kronis : darah dalam cairan otak meliputi seluruh meningen

AVM (Arterio Venous Malformation)

 

 

  1. Stroke ischemia

 

Tinggalkan komentar

lp ami

LAPORAN PENDAHULUAN ICU

AKUT MIOCARD INFARK

 

  1. A.     PENGERTIAN

Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.

(Brunner & Sudarth, 2002)

Infark miocard akut adalah nekrosis miocard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. (Suyono, 1999)

 

  1. B.      ETIOLOGI (kasuari, 2002)
    1. faktor penyebab :
      1. Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :

–          Faktor pembuluh darah :

  • Aterosklerosis.
  • Spasme
  • Arteritis

–          Faktor sirkulasi :

  • Hipotensi
  • Stenosos aurta
  • insufisiensi

–          Faktor darah :

  • Anemia
  • Hipoksemia
  • polisitemia
  1. Curah jantung yang meningkat :

–         Aktifitas berlebihan

–         Emosi

–         Makan terlalu banyak

–         hypertiroidisme

  1. Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :

–         Kerusakan miocard

–         Hypertropimiocard

–         Hypertensi diastolic

 

  1. Faktor predisposisi :
    1. faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :

–         usia lebih dari 40 tahun

–         jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause

–         hereditas

–         Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.

  1. Faktor resiko yang dapat diubah :

–         Mayor :

  • hiperlipidemia
  • hipertensi
  • Merokok
  • Diabetes
  • Obesitas
  • Diet tinggi lemak jenuh, kalori

–         Minor:

  • Inaktifitas fisik
  • Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif).
  • Stress psikologis berlebihan.

 

C.     TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala infark miokard  ( TRIAS ) adalah :

1. Nyeri :

  1. Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.
  2. Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.
  3. Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).
  4. Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin (NTG).
  5. Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan  leher.
  6. Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual muntah.
  7. Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman nyeri).

 

  1. Laborat

Pemeriksaan Enzim jantung :

  1. CPK-MB/CPK

Isoenzim yang ditemukan  pada otot jantung  meningkat antara  4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam,  kembali normal dalam 36-48 jam.

  1. LDH/HBDH

Meningkat dalam  12-24 jam dam memakan  waktu lama untuk kembali normal

  1. AST/SGOT

Meningkat ( kurang nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal dalam 3 atau 4  hari

 

  1. EKG

Perubahan EKG yang terjadi pada fase awal  adanya  gelombang T tinggi dan simetris. Setelah  ini terdapat elevasi segmen ST.Perubahan yang terjadi kemudian  ialah adanya  gelombang Q/QS yang menandakan adanya nekrosis.

 

Skor nyeri menurut White :

0        =    tidak mengalami nyeri

1      =    nyeri pada satu sisi tanpa menggangu aktifitas

2     =    nyeri lebih pada satu tempat dan mengakibatkan terganggunya aktifitas, mislnya kesulitan bangun dari tempat tidur, sulit menekuk kepala dan lainnya.

 

 

 

 

 

 


D.     PATHWAYS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. EKG

Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q. patologis

  1. Enzim Jantung.

CPKMB, LDH, AST

  1. Elektrolit.

Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas, missal hipokalemi, hiperkalemi

  1. Sel darah putih

Leukosit ( 10.000 – 20.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi

  1. Kecepatan sedimentasi

Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI , menunjukkan inflamasi.

  1. Kimia

Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi organ akut atau kronis

  1. GDA

Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis.

  1. Kolesterol atau Trigliserida serum

Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.

  1. Foto dada

Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga GJK atau  aneurisma ventrikuler.

  1. Ekokardiogram

Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi, gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.

  1. Pemeriksaan pencitraan nuklir
    1. Talium : mengevaluasi aliran darah miocardia dan status sel miocardia missal lokasi atau luasnya IMA
    2. Technetium : terkumpul dalam sel iskemi di sekitar area nekrotik
    3. Pencitraan darah jantung (MUGA)

Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum, gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran darah)

 

 

  1. Angiografi koroner

Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. Biasanya dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi). Prosedur tidak selalu dilakukan pad fase AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi.

  1. Digital subtraksion angiografi (PSA)

Teknik yang digunakan untuk menggambarkan

  1. Nuklear Magnetic Resonance (NMR)

Memungkinkan visualisasi aliran darah, serambi jantung atau katup ventrikel, lesivaskuler, pembentukan plak, area nekrosis atau infark dan bekuan darah.

  1. Tes stress olah raga

Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering dilakukan sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan.

 

  1. F.      PENATALAKSANAAN
    1. Rawat ICCU, puasa 8 jam
    2. Tirah baring, posisi semi fowler.
    3. Monitor EKG
    4. Infus D5% 10 – 12 tetes/ menit
    5. Oksigen  2 – 4 lt/menit
    6. Analgesik : morphin 5 mg atau petidin 25 – 50 mg
    7. Obat sedatif : diazepam 2 – 5 mg
    8. Bowel care  : laksadin
    9. Antikoagulan : heparin tiap 4 – 6 jam /infus
    10. Diet rendah kalori dan mudah dicerna
    11. Psikoterapi untuk mengurangi cemas

 

  1. G.     PENGKAJIAN PRIMER
    1. Airways

–         Sumbatan atau penumpukan secret

–         Wheezing atau krekles

  1. Breathing

–         Sesak dengan aktifitas ringan atau istirahat

–         RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler  dangkal

–         Ronchi, krekles

–         Ekspansi dada tidak penuh

–         Penggunaan otot bantu nafas

  1. Circulation

–         Nadi lemah , tidak teratur

–         Takikardi

–         TD meningkat / menurun

–         Edema

–         Gelisah

–         Akral dingin

–         Kulit pucat, sianosis

–         Output urine menurun

 

H.     PENGKAJIAN SEKUNDER.

  1. Aktifitas

Gejala :

–         Kelemahan

–         Kelelahan

–         Tidak dapat tidur

–         Pola hidup menetap

–         Jadwal olah raga tidak teratur

Tanda :

–         Takikardi

–         Dispnea pada istirahat atau aaktifitas

  1. Sirkulasi

Gejala :   riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan darah, diabetes mellitus.

Tanda :

–         Tekanan darah

Dapat normal / naik / turun

Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri

–         Nadi

Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratus (disritmia)

 

 

–         Bunyi jantung

Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel

–         Murmur

Bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung

–         Friksi ; dicurigai Perikarditis

–         Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur

–         Edema

Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema umum,krekles mungkin ada dengan gagal jantung atau ventrikel

–         Warna

Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir

  1. Integritas ego

Gejala :   menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan ajal sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga

Tanda :   menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah, perilaku menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri

  1. Eliminasi

Tanda :   normal, bunyi usus menurun.

  1. Makanan atau cairan

Gejala :   mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar

Tanda :   penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah, perubahan berat badan

  1. Hygiene

Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan

  1. Neurosensori

Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istrahat )

Tanda : perubahan mental, kelemahan

  1. Nyeri atau ketidaknyamanan

Gejala :

–         Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan aktifitas ), tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)

 

–          Lokasi    :

Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke tangan, ranhang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.

–          Kualitas     :

“Crushing  ”, menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat .

–          Intensitas :

Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.

–          Catatan   : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes mellitus , hipertensi, lansia

  1. Pernafasan:

Gejala :

–         dispnea tanpa atau dengan kerja

–         dispnea nocturnal

–         batuk dengan atau tanpa produksi sputum

–         riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.

Tanda :

–         peningkatan frekuensi pernafasan

–         nafas sesak / kuat

–         pucat, sianosis

–         bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum

  1. Interkasi social

Gejala :

–         Stress

–         Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS

Tanda :

–         Kesulitan istirahat dengan tenang

–         Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut )

–         Menarik diri

 

 

 

 

I.        DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

  1. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri ditandai dengan :
  • Ø nyeri dada dengan / tanpa penyebaran
  • Ø wajah meringis
  • Ø gelisah
  • Ø delirium
  • Ø perubahan nadi, tekanan darah.

Tujuan :

Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan selama di RS

Kriteria  Hasil:

  • Ø Nyeri dada berkurang misalnya dari skala 3 ke 2, atau dari 2 ke 1
  • Ø ekpresi wajah  rileks / tenang, tak tegang
  • Ø tidak gelisah
  • Ø nadi 60-100 x / menit,
  • Ø TD 120/ 80 mmHg

Intervensi :

  • Ø Observasi karakteristik, lokasi, waktu, dan perjalanan  rasa nyeri dada  tersebut.
  • Ø Anjurkan pada klien  menghentikan aktifitas selama ada serangan dan istirahat.
  • Ø Bantu klien  melakukan tehnik relaksasi, mis nafas dalam, perilaku distraksi, visualisasi, atau bimbingan imajinasi.
  • Ø Pertahankan Olsigenasi  dengan bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit )
  • Ø Monitor tanda-tanda vital ( Nadi & tekanan darah ) tiap dua jam.
  • Ø Kolaborasi  dengan tim kesehatan  dalam pemberian analgetik.

 

  1. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan factor-faktor listrik, penurunan karakteristik miokard

Tujuan :

Curah jantung membaik / stabil setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø Tidak ada edema
  • Ø Tidak ada disritmia
  • Ø Haluaran urin normal
  • Ø TTV dalam batas normal

Intervensi :

  • Ø Pertahankan tirah baring selama fase akut
  • Ø Kaji dan laporkan adanya tanda – tanda penurunan COP, TD
  • Ø Monitor haluaran urin
  • Ø Kaji dan pantau TTV tiap jam
  • Ø Kaji dan pantau EKG tiap hari
  • Ø Berikan oksigen sesuai kebutuhan
  • Ø Auskultasi pernafasan dan jantung tiap jam sesuai indikasi
  • Ø Pertahankan cairan parenteral dan obat-obatan sesuai advis
  • Ø Berikan makanan sesuai diitnya
  • Ø Hindari valsava manuver, mengejan ( gunakan laxan )

 

  1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan , iskemik, kerusakan otot jantung, penyempitan / penyumbatan pembuluh darah arteri koronaria ditandai dengan :
  • Ø Daerah perifer dingin
  • Ø EKG elevasi segmen ST & Q patologis pada lead tertentu
  • Ø RR lebih dari 24 x/ menit
  • Ø Kapiler refill Lebih dari 3 detik
  • Ø Nyeri dada
  • Ø Gambaran foto torak terdpat pembesaran jantung & kongestif paru ( tidak selalu )
  • Ø HR lebih dari 100 x/menit, TD > 120/80AGD dengan : pa O2 < 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg
  • Ø Nadi lebih dari 100 x/ menit
  • Ø Terjadi peningkatan enzim jantung yaitu CK, AST, LDL/HDL

Tujuan :

Gangguan perfusi  jaringan berkurang / tidak meluas selama dilakukan tindakan perawatan di RS.

Kriteria Hasil:

  • Ø Daerah perifer hangat
  • Ø tak sianosis
  • Ø gambaran EKG tak menunjukan perluasan infark
  • Ø RR 16-24 x/ menit
  • Ø tak terdapat clubbing finger
  • Ø kapiler refill 3-5 detik
  • Ø nadi 60-100x / menit
  • Ø TD 120/80 mmHg

Intervensi :

  • Ø Monitor Frekuensi dan irama jantung
  • Ø Observasi perubahan  status mental
  • Ø Observasi warna  dan suhu kulit / membran mukosa
  • Ø Ukur haluaran urin dan catat berat jenisnya
  • Ø Kolaborasi : Berikan cairan IV l sesuai indikasi
  • Ø Pantau Pemeriksaan diagnostik / dan laboratorium mis EKG, elektrolit , GDA( Pa O2, Pa CO2 dan saturasi O2 ). Dan  Pemberian oksigen

 

  1. Resiko kelebihan volume cairan ekstravaskuler berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal, peningkatan natrium / retensi air , peningkatan tekanan hidrostatik, penurunan protein plasma.

Tujuan :

Keseimbangan volume cairan dapat dipertahankan  selama dilakukan tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø tekanan darah dalam batas normal
  • Ø tak ada distensi  vena perifer/ vena dan edema  dependen
  • Ø paru bersih
  • Ø berat badan  ideal ( BB idealTB –100 ± 10 %)

Intervensi :

  • Ø Ukur masukan / haluaran, catat penurunan , pengeluaran, sifat konsentrasi, hitung keseimbangan cairan
  • Ø Observasi adanya oedema dependen
  • Ø Timbang BB tiap hari
  • Ø Pertahankan masukan  total caiaran 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler
  • Ø Kolaborasi : pemberian diet rendah natrium, berikan  diuetik.

 

 

  1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan aliran darah ke alveoli atau kegagalan utama paru, perubahan membran  alveolar- kapiler ( atelektasis , kolaps jalan nafas/ alveolar  edema paru/efusi, sekresi berlebihan / perdarahan aktif ) ditandai dengan :
  • Ø Dispnea berat
  • Ø Gelisah
  • Ø Sianosis
  • Ø perubahan GDA
  • Ø hipoksemia

Tujuan :

Oksigenasi dengan GDA dalam rentang normal (pa O2 < 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg ) setelah dilakukan tindakan keperawtan selama di RS.

Kriteria hasil :

  • Ø Tidak sesak nafas
  • Ø tidak gelisah
  • Ø GDA dalam batas Normal ( pa O2 < 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg )

Intervensi :

  • Ø Catat frekuensi & kedalaman pernafasan, penggunaan otot Bantu pernafasan
  • Ø Auskultasi paru untuk  mengetahui penurunan / tidak adanya  bunyi nafas  dan adanya bunyi tambahan misal krakles, ronki dll.
  • Ø Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas misalnya , batuk,  penghisapan lendir dll.
  • Ø Tinggikan kepala / tempat tidur sesuai kebutuhan / toleransi pasien
  • Ø Kaji toleransi aktifitas misalnya  keluhan kelemahan/ kelelahan selama kerja atau tanda vital berubah.

 

  1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen miocard dan  kebutuhan, adanya iskemik/ nekrotik jaringan miocard ditandai dengan gangguan frekuensi jantung, tekanan darah dalam aktifitas, terjadinya disritmia, kelemahan umum

Tujuan :

Terjadi peningkatan toleransi  pada klien setelah dilaksanakan  tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria  Hasil :

  • Ø klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan klien
  • Ø frekuensi jantung  60-100 x/ menit
  • Ø TD 120-80 mmHg

Intervensi :

  • Ø Catat frekuensi  jantung, irama,  dan perubahan TD selama dan sesudah aktifitas
  • Ø Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur )
  • Ø Batasi aktifitas pada dasar nyeri  dan berikan aktifitas sensori yang tidak berat.
  • Ø Jelaskan pola peningkatan  bertahap dari tingkat aktifitas, contoh bengun dari  kursi bila tidak ada  nyeri, ambulasi dan istirahat selam 1 jam  setelah mkan.
  • Ø Kaji ulang tanda  gangguan yang menunjukan tidak toleran  terhadap aktifitas atau memerlukan  pelaporan pada dokter.

 

  1. Cemas berhubungan dengan ancaman aktual terhadap integritas biologis

Tujuan :

cemas hilang / berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø Klien tampak rileks
  • Ø Klien dapat beristirahat
  • Ø TTV dalam batas normal

Intervensi :

  • Ø Kaji tanda dan respon verbal serta non verbal terhadap ansietas
  • Ø Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
  • Ø Ajarkan tehnik relaksasi
  • Ø Minimalkan rangsang yang membuat stress
  • Ø Diskusikan dan orientasikan klien dengan lingkungan dan peralatan
  • Ø Berikan sentuhan pada klien dan ajak kllien berbincang-bincang dengan suasana tenang
  • Ø Berikan support mental
  • Ø Kolaborasi pemberian sedatif sesuai indikasi

 

 

 

 

  1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang  informasi tentang fungsi jantung / implikasi  penyakit jantung  dan status kesehatan  yang akan datang , kebutuhan  perubahan pola hidup ditandai dengan pernyataan masalah, kesalahan konsep, pertanyaan, terjadinya kompliksi  yang dapat dicegah

Tujuan :

Pengetahuan klien tentang  kondisi  penyakitnya  menguat setelah diberi  pendidikan kesehatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø Menyatakan pemahaman tentang penyakit jantung , rencana pengobatan,  tujuan pengobatan & efek samping  / reaksi merugikan
  • Ø Menyebutkan gangguan yang memerlukan perhatian cepat.

Intervensi :

  • Ø Berikan informasi dalam bentuk belajar yang berfariasi, contoh buku, program audio/ visual, Tanya jawab dll.
  • Ø Beri penjelasan factor resiko, diet ( Rendah lemak dan rendah garam ) dan aktifitas yang berlebihan,
  • Ø Peringatan untuk menghindari paktifitas manuver valsava
  • Ø Latih pasien sehubungan dengan aktifitas yang bertahap contoh : jalan, kerja,  rekreasi  aktifitas seksual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Carolyn M. Hudak. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC ; 1997
  2. Susan Martin Tucker. Patient Care Standarts. Volume 2. Jakarta : EGC ; 1998
  3. Lynda Juall Carpenito. Handbook Of Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta : EGC ; 2001
  4. Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Volume 2. Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)
  5. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical – surgical nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A.  Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
  6. Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
  7. Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)
  8. Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa, I.M. Jakarta: EGC; 1999 (Buku asli diterbitkan tahun 1993)
  9. Suyono, S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2001
  10. Arif Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius ; 2000
  11. Sandra M. Nettina , Pedoman Praktik Keperawatan, Jakarta, EGC, 2002
  12. Kasuari, Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan Pendekatan Patofisiology, Magelang, Poltekes Semarang PSIK Magelang, 2002
  13. Heni Rokhaeni, Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Edisi Pertama  Jakarta, Bidang Diklat Pusat Kesehatan Jantung Dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita; 2002