Tinggalkan komentar

askep tbc

LAMPIRAN MATERI

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

TUBERCULOSIS PARU

A.                     Pengertian

Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru (IPD, FK, UI).

Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi ( Mansjoer , 1999).

  1. Etiologi

Etiologi Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang berbentuk batang dan Tahan asam ( Price , 1997 )

Penyebab Tuberculosis adalah M. Tuberculosis bentuk batang panjang 1 – 4 /mm

Dengan tebal 0,3 – 0,5 mm. selain itu juga kuman lain yang memberi infeksi yang sama yaitu M. Bovis, M. Kansasii, M. Intracellutare.

  1. Patofis

TB. Primer

Kuman dibatukkan / bersin (droplet nudei inidinborne)

Terisap organ sehat

Menempel di jalan nafas / paru-paru

Menetap / berkembang biak

Sitoplasma makroflag

Membentuk sarang TB Pneumonia kecil

(sarang primer / efek primer)

Radang saluran pernafasan

(limfangitis regional)

Komplek primer

Sembuh                     Sembuh dengan bekas                        Komplikasi

TB Sekunder

Kuman dormat (TB Primer)

Infeksi endogen

TB DWS (TB. Post Primer)

Sarang pneumenia kecil

Tuberkel

Reorpsi                              Meluas                               Meluas

                        Sembuh

                                                                 Perkapuran                         Jaringan Keju

                                                                 Sembuh                                Kavitas

Meluas             Memadat/bekas      Bersih  Sembuh

Sarang pneumonia baru          Tuberkuloma

D.                     Klasifikasi

¨      Klasifikasi Kesehatan Masyarakat (American Thoracic Society, 1974)

–     Kategori       0       =   –   Tidak pernah terpapar / terinfeksi

–       Riwayat kontak negatif

–       Tes tuberkulin

–     Kategori        I       =   –    Terpapar TB tapi tidak terbukti ada infeksi

–       Riwayat / kontak negatif

–       Tes tuberkulin negatif

–    Kategori      II       =   –   Terinfeksi TB tapi tidak sakit

–       Tes tuberkulin positif

–       Radiologis dan sputum negatif

–    Kategori      III       =   –    Terinfeksi dan sputum sakit

¨      Di Indonesia Klasifikasi yang dipakai berdasarkan DEPKES 2000 adalah Kategori 1 :

–            Paduan obat 2HRZE/4H3R3 atau 2HRZE/4HR atau  2HRZE/6HE

Obat tersebut diberikan pada penderita baru Y+TB Paru BTA Positif, penderita TB Paru BTA Negatif Roentgen Positif yang “sakit berat” dan Penderita TB ekstra Paru Berat.

Kategori II :

–            paduan obat 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Obat ini diberikan untuk : penderita kambuh (relaps), pendrita gagal (failure) dan penderita dengan pengobatan setelah lalai ( after default)

Kategori III :

–            paduan obat 2HRZ/4H3R3

Obat ini diberikan untuk penderita BTA negatif fan roentgen positif    sakit ringan, penderita ekstra paru ringan yaitu TB Kelenjar Limfe (limfadenitis), pleuritis eksudativa uiteral, TB Kulit, TB tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.

Adapun tambahan dari pengobatan pasien TB obat sisipan yaitu diberikan bila pada akhir tahab intensif dari suatu pengobatan dengan kategori 1 atua 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan ( HRZE ) setiap hari selama satu bulan.

  1. Gejala Klinis

Gejala umum Tb paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum , malaise , gejala flu , demam ringan , nyeri dada , batuk darah . ( Mansjoer , 1999)

Gejala lain yaitu kelelahan, anorexia, penurunan Berat badan ( Luckman dkk, 93 )

–        Demam           :      subfebril menyerupai influensa

–        Batuk              :      – batuk kering (non produktif)  ® batuk produktif (sputum)

– hemaptoe

–       Sesak Nafas     :      pada penyakit TB yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah ½  bagian paru-paru

–        Nyeri dada

–        Malaise           :      anoreksia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, keringat malam

  1. Pemeriksaan Penunjang

1.  Darah                     :      –   Leokosit sedikit meninggi

–   LED meningkat

2.  Sputum                  :      BTA

Pada BTA (+) ditermukan sekurang-kurangnya 3 batang kuman pada satu sediaan dengna kata lain 5.000 kuman dalam 1 ml sputum.

3.  Test Tuberkulin     :      Mantoux Tes (PPD)

4.  Roentgen               :      Foto PA

  1. Medikamentosa

Jenis  obat yang dipakai

–  Obat Primer                                   –  Obat Sekunder

1.  Isoniazid (H)                               1.  Ekonamid

2.  Rifampisin (R)                             2.  Protionamid

3.  Pirazinamid (Z)                           3.  Sikloserin

4.  Streptomisin                                4.  Kanamisin

5.  Etambutol (E)                              5.  PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)

  1. Tiasetazon
  2. Viomisin
  3. Kapreomisin

Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :

  • Tahap INTENSIF

Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahab intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi  negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.

  • Tahap  lanjutan

Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya kelembutan. Tahab lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

Paduan obat kategori 1 :

Tahap Lama (H) / day  R day Z day F day Jumlah

Hari X

Nelan ObatIntensif2 bulan113360Lanjutan4 bulan21–54

Paduan Obat kategori 2 :

Tahap Lama (H)

@300

mgR

@450

mgZ

@500

mgE

@ 250

mgE

@500

mgStrep.

InjeksiJumlah

Hari X

Nelan ObatIntensif2 bulan

1 bulan1

11

13

33

3-

-0,5 %60

30Lanjutan5 bulan2 132-66

Paduan Obat kategori 3 :

Tahap Lama H @ 300 mg R@450mg P@500mg Hari X Nelan Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 60
Lanjutan

3 x week4 bulan2

1154

OAT sisipan (HRZE)

Tahap Lama H

@300mg R

@450mgZ

@500mg

E day

@250mgNelan X

HariIntensif

(dosis harian)1 bulan113330

H.                Kegagalan Pengobatan

Sebab-sebab kegagalan pengobataan :

a.       Obat                            :    –      Paduan obat tidak adekuat

–      Dosis obat tidak cukup

–            Minum obat tidak teratur / tdk. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan.

–            Jangka waktupengobatan kurang dari semestinya

–            Terjadi resistensi obat.

b.    Drop out                       :    –      Kekurangan biaya pengobatan

–      Merasa  sudah sembuh

–      Malas berobat

c.     Penyakit                        :    –      Lesi Paru yang sakit terlalu luas / sakit berat

–      Ada penyakit lainyang menyertai contoh : Demam, Alkoholisme dll

–      Ada gangguan imunologis

  1.     Penanggulangan Khusus Pasien
    1. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur

–  menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan cara pemberian.

–  Pemeriksaan uji kepekaan / test resistensi kuman terhadap obat

  1. Terhadap penderita yang riwayat pengobatan tidak teratur

–   Teruskan pengobatan lama ± 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-tiap bulan.

–     Nilai ulang test resistensi kuman terhadap  obat

–     Jangka resistensi terhadap obat, ganti dengan paduan obat yang masih sensitif.

  1. Pada penderita kambuh (sudah menjalani pengobatan teratur dan adekuat sesuai rencana tetapi dalam kontrol ulang BTA ( +) secara mikroskopik atau secara biakan )
    1. Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama
    2. Lakukan pemeriksaan BTA mikroskopik 3 kali, biakan dan resistensi
    3. Roentgen paru sebagai evaluasi.
    4. Identifikasi adanya penyakit yang menyertai (demam, alkoholisme / steroid jangka lama)
    5. Sesuatu obat dengan tes kepekaan / resistensi
    6. Evaluasi ulang setiap bulannya : pengobatan, radiologis, bakteriologis.
  1. J.    Asuhan Keperawatan TB Paru
    1. Pengkajian

Data Yang dikaji

  1. Aktifitas/istirahat

Kelelahan

Nafas pendek karena kerja

Kesultan tidur pada malam hari, menggigil atau berkeringat

Mimpi buruk

Takhikardi, takipnea/dispnea pada kerja

Kelelahan otot, nyeri , dan sesak

  1. Integritas Ego

Adanya / factor stress yang lama

Masalah keuangan, rumah

Perasaan tidak berdaya / tak ada harapan

Menyangkal

Ansetas, ketakutan, mudah  terangsang

  1. Makanan / Cairan

Kehilangan nafsu makan

Tak dapat mencerna

Penurunan berat badan

Turgor kult buruk, kering/kulit bersisik

Kehilangan otot/hilang lemak sub kutan

  1. Kenyamanan

Nyeri dada

Berhati-hati pada daerah yang sakit

Gelisah

  1. Pernafasan

Nafas Pendek

Batuk

Peningkatan frekuensi pernafasan

Pengembangn pernafasan tak simetris

Perkusi pekak dan penuruna fremitus

Defiasi trakeal

Bunyi nafas menurun/tak ada secara bilateral atau unilateral

Karakteristik : Hijau /kurulen, Kuning atua bercak darah

  1. Keamanan

Adanya kondisi penekanan imun

Test HIV Positif

Demam atau sakit panas akut

  1. Interaksi Sosial

Perasaan Isolasi atau penolakan

Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab

Pemeriksaan Diagnostik

  1. Kultur Sputum
  2. Zeihl-Neelsen
  3. Tes Kulit
  4. Foto Thorak
  5. Histologi
  6. Biopsi jarum pada jaringan paru
  7. Elektrosit
  8. GDA
  9. Pemeriksaan fungsi Paru

II. Diagnosa Keperawatan

  1. Resiko tinggi infeksi ( penyebaran / aktivasi ulang ) B.d

–            Pertahanan primer tak adekuat , penurunan kerja silia

–            Kerusakan jaringan

–            Penurunan ketahanan

–            Malnutrisi

–            Terpapar lngkungan

–            Kurang pengetahuan untuk menghindari pemaparan patogen

Kriteria hasil :- Pasien menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko    individu

–       mengidentifkasi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi

–       Menunjukkan teknik , perubahan pola hidup untuk peningkatan lingkungan yang aman

Intervensi :

  1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
  2. Identifikasi orang lain yang beresiko
  3. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari meludah
  4. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara
  5. Awasi suhu sesuai indikasi
  6. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
  7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
  8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
  9. Dorong memilih makanan seimbang
  10. Kolaborasi pemberian antibiotik
  11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal
  1. Bersihan jalan nafas tak efektif  B.d

–  adanya secret

–  Kelemahan , upaya batuk buruk

–  Edema tracheal

Kriteria Evaluasi  : Pasien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi   jaringan adekuat

Intervensi :

  1. Kaji fungsi pernafasan , kecepatan , irama , dan kedalaman serta penggunaan otot asesoris
  2. Catat kemampuan unttuk mengeluarkan mukosa / batuk efekttif
  3. Beri posisi semi/fowler
  4. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea
  5. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml per hari
  6. Kolaboras pemberian oksigen dan obat – obatan sesuai dengan indikasi
  1. Resiko tinggi / gangguan pertukaran gas B.d

–  Penurunan permukaan efektif paru , atelektasis

–  Kerusakan membran alveolar – kapiler

–  Sekret kental , tebal

–  Edema bronchial

Kriteria Evaluasi  : Pasien menunjukkan perbaikan venilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan

Intervensi :

  1. Kaji Dipsnea,Takhipnea, menurunnya bunyi nafas ,peningkatan   upaya pernafasan , terbatasnya ekspansi dinding dada , dan kelemahan
    1. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran , catat sianosis dan atau perubahan pada warna kulit
    2.  Anjurkan bernafas bibr selama ekshalasi
      1. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan atau Bantu aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
      2. Kolaborasi oksigen
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan B.d

–       Kelemahan

–       Sering batuk / produksi sputum

–       Anorexia

–       Ketidakcukupan sumber keuangan

Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan BB, menunjukkan perubahan perilaku / pola hidup untuk meningkatkan / mempertahankan BB yang tepat

Intervensi :

  1. Catat status nutrisi pasien pada penerimaan , catat turgor kulit , BB, Integrtas     mukosa oral , kemampuan menelan , riwayat mual / muntah atau diare
  2.  Pastikan pola diet biasa pasien
  3.  Awasi masukan dan pengeluaran dan BB secara periodik

4.  Selidiki anorexia , mual , muntah dan catat kemungkinan hhubungan dengan obat

  1. Dorong dan berikan periode stirahat sering.
  2. Berikan perwatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
  3. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohodrat.
  4. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah.
  5. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
  6. Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadual pengobatan 1-2 jam sebelum dan sesudah makan.
  7. Awasi pemeriksaan laboratorium
  8. Kolaborasi antipiretik
  1. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan

Berhubungan dengan :

–           Keterbatasan kognitif

–           Tak akurat/lengkap informasi yang ada salah interpretasi informasi

Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan serta melakukan perubahan pola hidupdan berpartispasi dalam program pengobatan

Intervensi :

  1. Kaji kemampuan psen untuk belajar
  2. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat
  3. Tekankan pentingnya mempertahankan proten tinggi dan det karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat.
  4. Berikan interuksi dan informasi tertuls khusus pada pasien untuk rujukan.
  5. Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan lama.
  6. Kaji potensial efek samping pengobatan dan pemecahan masalah
  7. Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alcohol sementara minum INH
  8. Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah  memula dan kemudian tiap bulan selama minum etambutol
  9. Dorongan pasien/ atau orang terdekat untuk menyatakan takut / masalah. Jawab pertanyaan dengan benar.
  10. Dorong untuk tidak merokok
  11. Kaji bagaimana TB ditularkan dan bahaya reaktivasi

DAFTAR PUSTAKA ( REFERENSI )

Doengoes Marilynn E ,Rencana Asuhan Keperawatan ,EGC, Jakarta , 2000.

Lynda Juall Carpenito, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan , edisi 2 , EGC, Jakarta ,1999.

Mansjoer dkk , Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK UI , Jakarta 1999.

Price,Sylvia Anderson , Patofisologi : Konsep Klinis Proses – Proses penyakit , alih bahasa Peter Anugrah, edisi 4 , Jakarta , EGC, 1999.

Tucker dkk, Standart Perawatan Pasien , EGC, Jakarta , 1998.

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

Mata Kuliah                                          : Keperawatan Medikal Bedah

Kode Mata Ajaran                           : 216

SKS                                                 : 2 SKS

Waktu Pertemuan                            : 2 x 50 Menit

Pertemuan ke                                   : 1

_________________________________________________________________________

  1. TUJUAN

TIU               : Setelah mengkuti perkuliahan mahasiswa diharapkan mampu memahami   Asuhan keperawatan pada Klien dengan TB Paru .

TIK               : Setelah mengikuti perkuliahan , Mahasiswa mampu :

  1. Menyebutkan pengertian TB Paru
  2. Mengetahui etiologi
  3. Memahami Patofisiologi
  4. Menyebutkan tanda dan gejala
  5. Mengetahui pemeriksaan Dagnostik
  6. Mengetahui tindakan pengobatan Medis
  7. Memahami pengkajian keperawatan
  8. Mengetahui Diagnosa keperawatan
  9. Memahami intervensi keperawatan
  1. POKOK BAHASAN : Asuhan Keperawatan pada Klien dengan TB Paru
  1. SUB POKOK BAHASAN :
    1. Pengertian TB Paru
    2. Etologi
    3. Patofisiologi
    4. Tanda dan gejala
    5. Pemeriksaan Diagnostik
    6. Pengobatan Medis
    7. Pengkajian keperawatan
    8. Diagnosa keperawatan
    9. Intervensi keperawatan
  1. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Tahap Pengajaran Waktu Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa
Pendahuluan

Penyajian

Penutup

10 Menit

75 Menit

15 Menit

  1. Memberi salam
  2. Memperkenalkan diri
  3. Mengenal Mahasiswa
  4. Menjelaskan cakupan materi
  5. Menjelaskan manfaat mempelajari TB Paru
  6. Menjelaskan kompetensi dalam TIU dan TIK
  1. Menanyakan Pengertian TB paru
  2. Menuliskan jawaban Mahasiswa di White board
  3. Menyebutkan etiologi TB Paru
  4. Menjelaskan Patofisiologi TB Paru
  5. Menanyakan tanda dan gejala TB Paru
  6. Menuliskan jawaban Mahasiswa di white board dan menyimpulkan berdasarkan teori
  7. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik
  8. Menjelaskan Pengobatan Medis
  9. menjelaskan konsep Pengkajian keperawatan
  10. Menanyakan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien TB Paru
  11. Memberikan umpan balik pada Mahasiswa
  12. Menjelaskan intervensi keperawatan pada klien dengan TB Paru
  13. Memberikan kesempatan pada Mahasiswa untuk komentar atau bertanya

Menutup Pertemuan

  1. Menyimpulkan materi Perkuliahan
  2. Mengadakan umpan balik dengan post test
    1. Merespon hasil post tes
    2. Memberikan gambaran tentang materi perkulahan yang akan datang
    3. Menutup Pertemuan

Menjawab

Memperhatikan

Memperhatikan

Menjawab pertanyaan

Memperhatikan

Menjawab pertanyaan

Memperhatikan

Menjawab

Memperhatikan

Bertanya

Memperhatikan

Mengerjakan soal

Mengoreksi bersama

Memperhatikan

Menjawab salam

  1. Media         : OHP , Transparan , Spidol , White Board
  1. Metode       : Ceramah , Tanya Jawab , Observasi
  1. Evaluasi      : Test Formatif tertulis objektif
  1. Referensi

Doengoes Marilynn E ,Rencana Asuhan Keperawatan ,EGC, Jakarta , 2000.

Lynda Juall Carpenito, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan , edisi 2 , EGC, Jakarta ,1999.

Mansjoer dkk , Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK UI , Jakarta 1999.

Price,Sylvia Anderson , Patofisologi : Konsep Klinis Proses – Proses penyakit , alih bahasa Peter Anugrah, edisi 4 , Jakarta , EGC, 1999.

Tucker dkk, Standart Perawatan Pasien , EGC, Jakarta , 1998.

EVALUASI AKHIR PERTEMUAN

PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN YANG ANDA ANGGAP BENAR DENGAN MEMBERI TANDA SILANG !

  1. Berikut ini pengertian yang tepat dari Tuberculosis …..
  2. Penyakit akut pada saluran pernapasan
  3. Inflamasi kronis yang terjadi pada paru
  4. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi
  5. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh salmonella
  6. Penyakit degeneratif yang sering terjadi pada orang tua
    1. Etiologi Tuberculosis adalah bakteri tahan asam ……

a. Mycobacterium Tuberculosis

b. Mycobacterum Leprae

c. Bakteri gram negatif

d.Salmonella

e. Esterecia Colli

  1. Gejala TB yang sering kita temukan adalah sebagai berikut , kecuali

a. Malaise

b. Batuk

c. Demam subfebril

d.Nyeri dada

e. Nyeri kapala

  1. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa TB adalah ….

a. Darah rutin

b. Sputum BTA+

c. Urin rutin

d.Widal test

e. Lekosit menurun

  1. Obat yang tidak digunakan pada pengobatan TB adalah …..

a. Isoniazid

b. Streptomicin

c. Rifampicin

d.Pirazolon

e. Pirazinamid

  1. Yang tidak perlu dikaji pada klien TB paru adalah ……

a. Aktivitas

b. Integritas ego

c. Konsep diri

d.Pernapasan

e. Interaksi sosial

  1. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan TB paru …

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif  b.d penumpukan sekret

b. Gangguan mobilisasi b.d kelumpuhan pada anggota gerak

c. Gangguan komunikasi verbal

d.Defisit perawatan diri b.d nutrisi kurang

e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

  1. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah nutrisi pada pasien dengan TB, kecuali ….

a. Awasi masukan dan pengeluaran

b. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan KH

c. Selidiki anorexia , mual , muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat

d.Berikan posisi semi Fowler atau Fowler

e. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan komposisi diet

  1. Tindakan Keperawatan yang tidak tepat dilakukan pada klien dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif

a. Catat kemampuan untuk batuk efektif

b. Bersihkan secret dari mulut dan trachea

c. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran

d.Berikan posisi semi fowler atau fowler

e. Pertahankan masukan cairan sedukitnya 2500 ml/hari

  1. Untuk mencegah terjadinya penyakit TB , pada bayi diberikan Imunisasi
    1. DPT
    2. BCG
    3. TT
    4. Campak
    5. Polio

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: