Tinggalkan komentar

askep ulkus kornea

LAPORAN PENDAHULUAN

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

 ULKUS KORNEA

 

 

A. Pengertian

Keratitis ulseratif yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu  terdapatnya destruksi (kerusakan) pada bagian epitel kornea. (Darling,H Vera,  2000, hal 112)

IB. Etiologi

Faktor penyebabnya  antara lain:

v  Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal), dan  sebagainya

v  Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka

v  Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : oedema kornea kronik, exposure-keratitis (pada lagophtalmus, bius umum, koma) ; keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superfisialis  virus.

v  Kelainan-kelainan sistemik; malnutrisi, alkoholisme, sindrom Stevens-Jhonson, sindrom defisiensi imun.

v  Obat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun, misalnya : kortikosteroid, IUD, anestetik lokal dan golongan imunosupresif.

 

Secara etiologik ulkus kornea dapat disebabkan oleh :

  • Bakteri

Kuman yang murni dapat menyebabkan ulkus kornea adalah streptokok pneumoniae, sedangkan bakteri lain menimulkan ulkus kornea melalui faktor-faktor pencetus diatas.

  • Virus : herpes simplek, zooster, vaksinia, variola
  • Jamur : golongan kandida, fusarium, aspergilus, sefalosporium
  • Reaksi hipersensifitas
  • Reaksi terhadap stapilokokus (ulkus marginal), TBC (keratokonjungtivitis flikten), alergen tak diketahui (ulkus cincin)

(Sidarta Ilyas, 1998, 57-60)

C. Tanda dan Gejala

–          Pada ulkus yang menghancurkan membran bowman dan stroma, akan menimbulkan sikatrik  kornea.

–          Gejala subyektif pada ulkus kornea sama seperti gejala-gejala keratitis. Gejala obyektif berupa injeksi silier, hilangnya sebagian jaringan kornea dan adanya infiltrat. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion.

–          Fotofobia

–          Rasa sakit dan lakrimasi

(Darling,H Vera,  2000, hal 112)

 

D . MACAM-MACAM ULKUS KORNEA  SECARA DETAIL

Ulkus kornea dibagi dalam bentuk :

1. Ulkus kornea sentral meliputi: 

a. Ulkus kornea oleh bakteri

Bakteri yang ditemukan pada hasil kultur ulkus dari kornea yang tidak ada faktor pencetusnya (kornea yang sebelumnya betul-betul sehat) adalah :

–                    Streptokokok pneumonia

–                    Streptokokok alfa hemolitik

–                    Pseudomonas aeroginosa

–                    Klebaiella Pneumonia

–                    Spesies Moraksella

Sedangkan dari ulkus kornea yang ada faktor pencetusnya adalah bakteri patogen opportunistik yang biasa ditemukan di kelopak mata, kulit, periokular, sakus konjungtiva, atau rongga hidung yang pada keadaan sistem barier kornea normal tidak menimbulkan infeksi. Bakteri pada kelompok ini adalah :

–                    Stafilokukkus epidermidis

–                    Streptokokok Beta Hemolitik

–                    Proteus

 

Ulkus kornea oleh bakteri Streptokokok

Bakteri kelompok ini yang sering dijumpai pada kultur dari infeksi ulkus kornea adalah :

–                    streptokok pneumonia (pneumokok)

–                    streptokok viridans (streptokok alfa hemolitik0

–                    streptokok pyogenes (streptokok beta hemolitik)

–                    streptokok faecalis (streptokok non-hemolitik)

Walaupun streptokok pneumonia adalah penyebab yang biasa terdapat pada keratitis bakterial, akhir-akhir ini prevalensinya banyak digantikan oleh stafilokokus dan pseudomonas.

Ulkus oleh streptokok viridans lebih sering ditemukan mungkin disebabkan karena pneumokok adalah penghuni flora normal saluran pernafasan, sehingga terdapat semacam kekebalan. Streptokok pyogenes walaupun seringkali merupakan bakteri patogen untuk bagian tubuh yang lain, kuman ini jarang menyebabkan infeksi kornea. Ulkus oleh streptokok faecalis didapatkan pada kornea yang ada faktor pencetusnya.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri Streptokokok

Ulkus berwarna kuning keabu-abuan, berbetuk cakram dengan tepi ulkus menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karen aeksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia

Pengobatan : Sefazolin, Basitrasin dalam bentuk tetes, injeksi subkonjungtiva dan intra vena

 

Ulkus kornea oleh bakteri Stafilokokkus

Infeksi oleh Stafilokokus paling sering ditemukan. Dari 3 spesies stafilokokus Aureus, Epidermidis dan Saprofitikus, infeksi oleh Stafilokokus Aureus adalah yang paling berat, dapat dalam bentuk : infeksi ulkus kornea sentral, infeksi ulkus marginal, infeksi ulkus alergi (toksik).

Infeksi ulkus kornea oleh Stafilokokus Epidermidis biasanya terjadi bila ada faktor penceus sebelumnya seperti keratopati bulosa, infeksi herpes simpleks dan lensa kontak yang telah lama digunakan.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri Stafilokokkus

Pada awalnya berupa ulkus yang berwarna putih kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epithel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai oedema stroma dan infiltrasi sel lekosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus sering kali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Infeksi kornea marginal biasanya bebas kuman dan disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap  Stafilokokus Aureus.

 

Ulkus kornea oleh bakteri Pseudomonas

Berbeda dengan ulkus kornea sebelumnya, pada ulkus pseudomonas bakteri ini ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Bakteri pseudomonas bersifat aerob obligat dan menghasilkan eksotoksin yang menghambat sintesis protein. Keadaan ini menerangkan mengapa pada ulkus pseudomonas jaringan kornea cepat hancur dan mengalami kerusakan. Bakteri pseudomonas dapat hidup dalam kosmetika, cairan fluoresein, cairan lensa kontak.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri pseudomonas

Biasanya dimulai dengan ulkus kecil dibagian sentral kornea dengan infiltrat berwarna keabu-abuan disertai oedema epitel dan stroma. Ulkus kecil ini dengan cepat melebar dan mendalam serta menimbulkan perforasi kornea. Ulkus mengeluarkan discharge kental berwarna kuning kehijauan.

Pengobatan : gentamisin, tobramisin, karbesilin yang diberikan secara lokal, subkonjungtiva serta intra vena.

 

b. Ulkus kornea oleh virus

Ulkus kornea oleh virus herpes simpleks cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral.

 

c.Ulkus kornea oleh jamur

Ulkus kornea oleh jamur banyak ditemukan, hal ini dimungkinkan oleh :

–                    Penggunaan antibiotika secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama atau pemakaian kortikosteroid jangka panjang

–                    Fusarium dan sefalosporium menginfeksi kornea setelah suatu trauma yang disertai lecet epitel, misalnya kena ranting pohon atau binatang yang terbang mengindikasikan bahwa jamur terinokulasi di kornea oleh benda atau binatang yang melukai kornea dan bukan dari adanya defek epitel dan jamur yang berada di lingkungan hidup.

–                    Infeksi oleh jamur lebih sering didapatkan di daerah yang beriklim tropik, maka faktor ekologi ikut memberikan kontribusi.

Fusarium dan sefalosporium terdapat dimana-mana, ditanah, di udara dan sampah organik. Keduanya dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan pada manusia dapat diisolasi dari infeksi kulit, kuku, saluran kencing.

Aspergilus juga terdapat dimana-mana dan merupakan organisme oportunistik , selain keratitis aspergilus  dapat menyebabkan endoftalmitis eksogen dan endogen, selulitis orbita, infeksi saluran lakrimal.

Kandida adalah jamur yang paling oportunistik karena tidak mempunyai hifa (filamen) menginfeksi mata yang mempunyai faktor pencetus seperti exposure keratitis, keratitis sika, pasca keratoplasti, keratitis herpes simpleks dengan pemakaian kortikosteroid.

Pengobatan : Pemberian obat anti jamur dengan spektrum luas, apabila memungkinkan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan tes sensitifitas untuk dapat memilih obat anti jamur yang spesifik.

 

2. Ulkus marginal

Ulkus marginal adalah peradangan kornea bagian perifer dapat berbentuk bulat atau dapat juga rektangular (segiempat) dapat satu atau banyak dan terdapat daerah kornea yang sehat dengan limbus. Ulkus marginal dapat ditemukan pada orang tua dan sering dihubungkan dengan penyakit rematik atau debilitas. Dapat juga terjadi ebrsama-sama dengan radang konjungtiva yang disebabkan oleh Moraxella, basil Koch Weeks dan Proteus Vulgaris. Pada beberapa keadaan dapat dihubungkan dengan alergi terhadap makanan. Secara subyektif ; penglihatan pasien dengan ulkus marginal dapat menurun disertai rasa sakit, lakrimasi dan fotofobia. Secara obyektif : terdapat blefarospasme, injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang sejajar dengan limbus.

Pengobatan : Pemberian kortikosteroid topikal akan sembuh dalam 3 hingga 4 hari, tetapi dapat rekurens. Antibiotika diberikan untuk infeksi stafilokok atau kuman lainnya. Disensitisasi dengan toksoid stafilokkus dapat memberikan penyembuhan yang efektif.

 

 

  1. a.      Ulkus cincin

Merupakan ulkus kornea perifer yang dapat mengenai seluruh lingkaran kornea, bersifat destruktif dan biasaya mengenai satu mata.

Penyebabnya adalah reaksi alergi dan ditemukan bersama-sama penyakit disentri basile, influenza berat dan penyakit imunologik. Penyakit ini bersifat rekuren.

Pengobatan  bila tidak erjad infeksi adalah steroid saja.

  1. b.      Ulkus kataral simplek

Letak ulkus peifer yang tidak dalam ini berwarna abu-au dengan subu terpanjag tukak sejajar dengan limbus. Diantara infiltrat tukak yang akut dengan limbus dtepiya terlihat bagian yang bening.

Terjadi ada pasien lanut usia.

Pengobatan dengan memberikan antibiotik, steroid dan vitamin.

  1. c.      Ulkus Mooren

Merupakan ulkus kronik yang biasanya mulai dari bagian perifer kornea berjalan progresif ke arah sentral tanpa adaya kecenderungan untuk perforasi. Gambaran khasnya yaitu terdapat tepi tukak bergaung dengan bagan sentral tanpa adanya kelainan dalam waktu yang agak lama. Tukak ini berhenti jika seluuh permukaan kornea  terkenai.

Penyebabya adalah hipersensitif terhadap tuberkuloprotein, virus atau autoimun.

Keluhannya biasanya rasa sakit berat pada mata.

Pengobatan degan steroid, radioterapi. Flep  konjungtiva, rejeksi konjungtiva, keratektomi dan keratoplasti.

(Sidarta Ilyas, 1998, 57-60)

 

E. Penatalaksanaan :

Pasien dengan ulkus kornea berat biasanya dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali), tetes antimikroba dan pemeriksaan berkala oleh ahli opthalmologi. Cuci tangan secara seksama adalah wajib. Sarung tangan harus dikenakan pada setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata. Kelopak mata harus dijaga kebersihannya, dan perlu diberikan kompres dingin. Pasien dipantau adanya peningkatan tanda TIO. Mungkin diperlukan asetaminofen untuk mengontrol nyeri. Siklopegik dan midriatik mungkin perlu diresep untuk mengurangi nyeri dan inflamasi.  Tameng mata (patch) dan lensa kontak lunak tipe balutan harus dilepas sampai infeksi telah terkontrol, karena justru dapat memperkuat pertumbuhan mikroba. Namun kemudian diperlukan untuk mempercepat penyembuhan defek epitel.

F. Pemeriksaan Diagnostik :

  1. Kartu mata/ snellen telebinokuler  (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan )
  2. Lapang penglihatan
  3. Pengukuran tonografi : mengkaji TIO, normal 12  –   25 mmHg
  4. Pemeriksaan oftalmoskopi
  5. Pemeriksaan Darah lengkap, LED
  6. Pemeriksaan EKG
  7. Tes toleransi glukosa

 

G. Pengkajian :

  1. Aktifitas / istirahat :  perubahan aktifitas
  2. Neurosensori : penglihatan kabur, silau
  3. Nyeri  : ketidaknyamanan, nyeri tiba-tiba/berat menetap/tekanan pada & sekitar mata
  4. Keamanan  : takut, ansietas

 

(Dongoes, 2000)

 

Diagnosa Keperawatan :

  1. Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pasca operatif, pemberian obat

Intervensi Keperawatan:

–                    Kaji derajat dan durasi gangguan visual

–                    Orientasikan pasien pada lingkungan yang baru

–                    Jelaskan rutinitas perioperatif

–                    Dorong untuk menjalankan kebiasaan hidup sehari-hari bila mampu

–                    Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.

  1. Risiko terhadap cedera yang  berhubungan dengan kerusakan penglihatan

Intervensi  Keperawatan :

–                    Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pasca operasi sampai stabil

–                    Orientasikan pasien pada ruangan

–                    Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperlukan

–                    Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma

–                    Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata

  1. Nyeri yang berhubungan dengan trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi bedah atau pemberian tetes mata dilator

Intervensi Keperawatan :

–                    Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep

–                    Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul

–                    Kurangi tingkat pencahayaan

–                    Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat

  1. Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan

Intervensi Keperawatan :

–                    Beri instruksi pada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala, komplikasi yang harus segera dilaporkan pada dokter

–                    Berikan instruksi lisan dan  tertulis untuk pasien dan orang yang berarti mengenai teknik yang benar dalam memberikan obat

–                    Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan

–                    Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN ULKUS KORNEA PADA NY. L DI RUANG A4  RUMAH SAKIT DR. KARIADI SEMARANG

 

  1. BIODATA
    1. Identitas Pasien

Nama                     :     Ny . L

Umur                     :     68 tahun

Pendidikan            :     SD

Pekerjaan              :     –

Agama                   :     Islam

Suku                       :     Jawa

Status                    :     Menikah

Alamat                   :     Pedurungan – Semarang

  1. Identitas Penanggung Jawab

Nama                     :     Ny.  S

Umur                     :     43  tahun

Pekerjaan              :     Swasta

Hubungan dg pasien    :           Anak  Kandung

  1. Catatan Masuk

Tanggal Masuk       :     21 Mei 2004

Jam                       :     12.. 30  WIB

Cara                       :     Sendiri

Dx. Medis               :     Ulkus Kornea

Register                 :     738885

Tanggal Pengkajian     :           24  Mei  2004

  1. RIWAYAT KESEHATAN

1.  Keluhan  Utama     :     Nyeri pada mata kiri

2.   Riwayat Kesehatan Sekarang  :

Sebelum masuk rumah sakit,  mata kiri berdarah, nyeri, cekot-cekot, mblobok, dan tidak bisa melihat.

Pada saat dilakukan pengkajian pasien mengeluh mata kiri terasa nyeri, skala nyeri 7,  bertambah nyeri jika digunakan untuk bergerak., pasien post op hari ke : 3

 

3.   Riwayat Kesehatan Dahulu      :

Kurang lebih 10 tahun yang lalu, pasien sakit mata sebelah kiri, mata terasa cekot-cekot, nrocos, kemudian dibawa ke RSDK dan  kemudian keluhan berkurang

4.   Riwayat Kesehatan Keluarga   :

Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti pasien, tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit menular / penyakit keturunan

  1. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

Pasien sekarang sudah tidak bekerja, pasien  tinggal   bersama anaknya yang kedua,. Kesan sosial ekonomi : cukup

  1. PENGKAJIAN FISIK & POLA FUNGSI
    1. Kardio Respiratori
      1. Tanda-Tanda Vital

–  Suhu       :  36,5 º C                     –  Nadi              :     88  X / menit

–  TD           :   130 / 80 mmHg        –  Pernafasan   :     20  X / menit

  1. Respirasi :  Dada simetris, tidak terdapat wheezing, tidak ada retraksi dada, ronchi (-)
  2. Sirkulasi  :   Nyeri dada (-),  oedema  (-)
  3. Kesadaran  :  komposmentis
  4. Makan-Minum / Nutrisi : makan 3 X/hari, porsi satu piring, komposisi : nasi, lauk, sayur dan kadang buah, tidak ada mual, muntah (-) minum sehari  ±  8 liter
  5. Eliminasi  :  Selama   sakit, klien  BAB  1X dalam 2 hari, konsistensi  lunak,, konstipasi  (-),  BAK  ±  5 kali sehari, tidak ada keluhan waktu miksi
  6. Integritas kulit  :  Kulit lembab, tidak terdaat ikterik, turgor baik
  7. Melakukan mobilisasi / Skeletal  :  keadaan tulang :  kontinyuitas, tangan yang dominan : kanan, bahu simetris, pasien dalam ADL  dengan bantuan minimal
  8. Istirahat & Tidur  :  tidak mengalami gangguan tidur baik sebelum maupun selama sakit, tidur  ±  7 jam sehari
  9. Kebersihan Diri  :  selama sakit mandi dengan diseka  pagi dan sore, gosok gigi 2 x sehari
  10. Sensorik  :  Pasien mengalami gangguan sensorik : penglihatan,  mata kiri berdarah, nyeri, cekot-cekot, tidak ada riwayat trauma, Status opthalmologi : OS = VOS = 0, palpasi : oedema (-), spasme (-),, konjungtiva : injeksi (+), sekret (-), korena : ruptur , iris : prolaps, CoA : sulit dinilai, OD = VOD = 3/60, lensa keruh tidak merata, OS : ulkus kornea + ruptur kornea ; pasien tidak mengalami gangguan  pendengaran, penciuman normal
  11. Lingkungan / Sosial  : pasien tidak  mempunyai kebiasaan merokok, minum  alkohol.
  12. Ekonomi : pasien tinggal bersama dengan anaknya yang kedua, suami sudah meninggal  2 tahun yang lalu, kondisi bangunan semi permanen, sumber air minum : sumur
  13. HARAPAN YANG INGIN DIPEROLEH DARI PERAWAT : Pasien ingin segera sembuh, sehingga dapat berkumpul dengan keluarga dirumah
  14. PEMERIKSAAN PENUNJANG / Laboratorium :  tanggal  21  Mei  2004

–                    Hematologi :

Hemoglobin :  12 gr%

Hematokrit   :  36,3  gr%

Eritrosit        :  4,02  juta/mmk

MCH              :  29,7  Pg

MCV              :  90,20  fl

PDW              :  15,5  fl

MCHC           :  33  g/dl

Lekosit          :  8,97  ribu/mmk

Trombosit    :  338   ribu/mmk

RDW              :  17,7  %

MPV              :  7,17  fl

–                    Kimia Klinik

Glukosa        :  103 mg/dl

Urea              :  23   mg/dl

Creatinin      :  0,96  mg/dl

–                    Elektrolit

Natrium        :  145 mmOl/L                 Kalium             :           4,4   mmOl/L

Clorida          :  110  mmOl/L                Calsium           :           2,39  mmOl/L

  1. THERAPI

 

 

 

ANALISA  DATA

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No.

Data  Fokus

Masalah

TTD

1. DS  :  pasien mengeluh nyeri pada mata kiri, mata terasa cekot-cekot

DO  :  Terdapat luka post operasi pada mata kiri,  mata kiri berdarah, Status opthalmologi : OS = VOS = 0, palpasi : oedema (-), spasme (-),, konjungtiva : injeksi (+), sekret (-), korena : ruptur , iris : prolaps, CoA : sulit dinilai, OD = VOD = 3/60, lensa keruh tidak merata, OS : ulkus kornea + ruptur

Nyeri   b.d  trauma pembedahan  

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No.

DX. Keperawatan

Tujuan

Intervensi

TTD

1

Nyeri   b.d  trauma pembedahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama  3  X 24 jam rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil : klien mengungkapkan nyeri berkurang, skala  : 1 – 3 –        Berikan obat untuk mengontrol nyeri

–        Kurangi tingkat pencahayaan

 

 

 

 

IMPLEMENTASI

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No. DP

Hari/Tgl

Implementasi

Evaluasi

TTD

1.

Senin, 24 Mei 2004 –        Berikan obat untuk mengontrol nyeri

 

 

–        Kurangi tingkat pencahayaan

S :  Klien mengatakan mata terasa nyeri

O  :  Post Op hari ke-3

A  :   Masalah belum teratasi

P   :  – lanjutkan intervensi

–        Lakukan ganti balut

–        Anjurkan untuk nafas dalam bila terasa nyeri

–        Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh luka

–        Tekankan pentingnya tidak menyentuh luka post op

–        Observasi tanda terjadinya infeksi

–        Anjurkan untuk mnegurangi aktifitas

–        Berikan posisi setengah duduk

 

 

ANALISA  DATA

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No.

Data  Fokus

Masalah

TTD

1. DS  :  pasien mengeluh nyeri pada mata kiri, mata masih terasa cekot-cekot

DO  :  Terdapat luka post operasi pada mata kiri,  mata kiri berdarah, rembesan darah (-), Status opthalmologi : OS = VOS = 0, palpasi : oedema (-), spasme (-),, konjungtiva : injeksi (+), sekret (-), korena : ruptur , iris : prolaps, CoA : sulit dinilai, OD = VOD = 3/60, lensa keruh tidak merata, OS : ulkus kornea + ruptur

Nyeri   b.d  trauma pembedahan  
2. DS  : Pasien mengatakan perutnya terasa mual, nafsu makan berkurang

DO : makan  habis  ¼ porsi

Gangguan pola makan b.d  kurangnya nafsu makan  

 

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

 

 

No DP

Tujuan

Intervensi

TTD

2

Setelah dilakukan tindakan kep. selama  3  X 24 jam rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil : nafsu makan meningkat –        Berikan Penjelasan tentang pentingnya nutrisi untuk mempercepat kesembuhan

–        Anjurkan untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering

–        Berikan obat sesuai advis dokter untuk mengurangi rasa mual

 

IMPLEMENTASI

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No. DP

Hari/Tgl

Implementasi

Evaluasi

TTD

1.

Selasa, 25 Mei 2004 –        Memberikan obat untuk mengontrol nyeri

–        Mengurangi tingkat pencahayaan

–        Mengganti balut

–        Menganjurkan untuk nafas dalam bila terasa nyeri

–        Mendiskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh luka

–        Menekankan pentingnya tidak menyentuh luka post op

–        Mengobservasi tanda terjadinya infeksi

–        Menganjurkan untuk mnegurangi aktifitas

–        Memberikan posisi setengah duduk

S :  Klien mengatakan mata terasa nyeri

O  :  Post Op hari ke-4

A  :   Masalah belum teratasi

P   :  – lanjutkan intervensi

 

 

2

Selasa, 25 Mei 2004 –        Memberikan Penjelasan tentang pentingnya nutrisi untuk mempercepat kesembuhan

–        Menanjurkan untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering

–        Memberikan obat sesuai advis dokter untuk mengurangi rasa mual

S :  Klien mengatakan tidak nafsu makan

O  :  makan habis ¼ porsi

A  :   Masalah belum teratasi

P   :  – lanjutkan intervensi

 

 

IMPLEMENTASI

Initial  Klien         ;  Ny. L                                           Register     :   738885

Umur                  :  68 tahun                                     Ruang        :  A4

No. DP

Hari/Tgl

Implementasi

Evaluasi

TTD

1.

Rabu, 26 Mei 2004 –        Memberikan obat untuk mengontrol nyeri

–        Mengurangi tingkat pencahayaan

–        Mengganti balut

–        Menganjurkan untuk nafas dalam bila terasa nyeri

–        Mendiskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh luka

–        Menekankan pentingnya tidak menyentuh luka post op

–        Mengobservasi tanda terjadinya infeksi

–        Menganjurkan untuk mnegurangi aktifitas

–        Memberikan posisi setengah duduk

S :  Klien mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri 3

O  :  KU luka baik, tidak ada tanda-tanda infeksi

A  :   Masalah teratasi

 

 

2

Rabu, 26 Mei 2004 –        Memberikan Penjelasan tentang pentingnya nutrisi untuk mempercepat kesembuhan

–        Menanjurkan untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering

–        Memberikan obat sesuai advis dokter untuk mengurangi rasa mual

S :  Klien mengatakan nafsu makan meningkat

O  :  makan habis 1 porsi

A  :   Masalah teratasi

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: